Suara Bersama

Rupiah Melemah Akibat Selat Hormuz Masih Ditutup

JAKARTA, suarabersama.com – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi di tengah ketidakpastian global. Mata uang Garuda turun 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp16.920 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.898 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen pasar yang masih cenderung menghindari risiko (risk off), terutama akibat konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menekan pasar.

“Investor masih berhati-hati karena harga minyak tinggi dan situasi geopolitik belum stabil,” ujarnya.

Harga Minyak Masih Tinggi

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada pasokan energi dunia.

Saat ini, harga minyak mentah jenis WTI tercatat sekitar 88 dolar AS per barel, sementara brent berada di kisaran 98 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut turut memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Harapan De-eskalasi Masih Tipis

Di tengah tekanan tersebut, muncul sinyal potensi meredanya konflik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari guna membuka ruang dialog.

Namun, klaim itu dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan tidak ada negosiasi dengan pihak AS dan menyebut kabar tersebut sebagai upaya manipulasi pasar.

Dengan situasi yang masih belum pasti, pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap wait and see, sembari memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga energi global. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + 16 =