Jakara, Suarabersama.com – Gelombang demonstrasi besar terjadi di berbagai wilayah United States dan sejumlah negara di Eropa ketika jutaan warga turun ke jalan pada Sabtu untuk memprotes Presiden Donald Trump. Aksi tersebut dipicu oleh kemarahan publik terhadap apa yang mereka nilai sebagai gaya kepemimpinan yang cenderung otoriter, kebijakan imigrasi yang ketat, serta keterlibatan Amerika dalam konflik dengan Iran.
Penyelenggara aksi menyebut mobilisasi tersebut sangat besar. Mereka mengklaim “setidaknya 8 juta orang berkumpul hari ini di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian”, mulai dari kota besar hingga komunitas kecil. Hingga kini otoritas Amerika Serikat belum memberikan estimasi resmi mengenai jumlah total peserta secara nasional.
Aksi ini merupakan bagian dari gerakan akar rumput No Kings protest movement, yang menjadi salah satu saluran oposisi paling vokal terhadap pemerintahan Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Selain di Amerika Serikat, demonstrasi juga digelar di sejumlah kota dunia seperti London, Paris, dan Rome. Dua aksi besar sebelumnya yang digelar oleh gerakan tersebut juga berhasil menarik jutaan peserta. Penyelenggara bahkan berharap mobilisasi pada Sabtu menjadi salah satu demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Aksi protes berlangsung dari New York City hingga kota kecil Driggs, Idaho, menunjukkan bahwa gerakan tersebut menjangkau wilayah yang sangat luas, termasuk daerah yang secara politik dikenal sebagai basis dukungan Trump.
Protes Besar di Minnesota
Salah satu pusat aksi terbesar terjadi di Minnesota, khususnya di Gedung Capitol negara bagian di St. Paul. Demonstrasi ini menghadirkan sejumlah tokoh publik, termasuk musisi Bruce Springsteen dan Joan Baez, dengan perkiraan massa lebih dari 100.000 orang.
Menurut laporan ABC News, wilayah tersebut menjadi salah satu titik panas terkait kebijakan imigrasi pemerintah Trump dan operasi agen federal di kota-kota yang dipimpin Partai Demokrat.
Dalam acara tersebut, Springsteen bahkan membawakan lagu Streets of Minneapolis, yang ia tulis sebagai respons atas penembakan fatal terhadap dua warga oleh agen federal. Ia mengungkapkan keprihatinan atas tragedi tersebut namun juga menyebut perlawanan warga Minnesota memberikan harapan bagi masyarakat di seluruh negeri.
Selain Minnesota, demonstrasi besar juga berlangsung di kota-kota besar seperti New York City, Los Angeles, dan Washington, D.C.. Namun penyelenggara menyatakan sekitar dua pertiga aksi justru terjadi di luar pusat kota besar, menunjukkan meluasnya partisipasi di komunitas kecil.
Di National Mall, Washington D.C., para demonstran meneriakkan slogan pro-demokrasi sambil membawa spanduk anti-Trump. Sementara di Chevy Chase, Maryland, sekelompok lansia bahkan mengangkat spanduk bertuliskan “Lawan tirani”, “Bunyikan klakson jika Anda menginginkan demokrasi” dan “Singkirkan Trump”.
Di Austin, Texas, para demonstran berkumpul di depan balai kota sebelum melakukan pawai menuju pusat kota dengan iringan musik dari kelompok band tiup.
Di Manhattan, aktor Robert De Niro yang turut terlibat dalam penyelenggaraan aksi menyatakan bahwa “ada presiden yang telah menguji batas konstitusional kekuasaan mereka, tetapi tidak ada yang menjadi ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita seperti ini”.
Sementara itu, Leah Greenberg, salah satu pendiri organisasi Indivisible, menilai lokasi demonstrasi menjadi faktor penting dalam mobilisasi tersebut. Ia mengatakan “Kisah utama dari mobilisasi Sabtu ini bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berdemonstrasi, tetapi di mana mereka berdemonstrasi.”
Aksi protes ini berlangsung di tengah menurunnya tingkat persetujuan publik terhadap Trump. Berdasarkan survei Reuters dan Ipsos, tingkat persetujuan terhadap presiden tersebut turun hingga 36 persen, angka terendah sejak ia kembali menjabat.
Kritik dari Partai Republik
Pihak Partai Republik menanggapi demonstrasi tersebut dengan kritik keras. Juru bicara Komite Kongres Republik Nasional, Mike Marinella, menyatakan “Aksi Unjuk Rasa ‘Benci Amerika’ ini adalah tempat fantasi paling kejam dan gila dari sayap kiri mendapatkan mikrofon dan anggota DPR dari Partai Demokrat mendapatkan perintah mereka.”
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson menilai aksi tersebut didukung jaringan politik sayap kiri. Ia menyebut protes tersebut sebagai “jaringan pendanaan sayap kiri” dan bahkan menambahkan “Satu-satunya orang yang peduli dengan Sesi Terapi Gangguan Trump ini adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.”
Menjelang Pemilu Paruh Waktu
Mobilisasi demonstrasi ini juga terjadi menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang akan digelar akhir tahun. Penyelenggara menyebut minat masyarakat untuk terlibat dalam aksi meningkat, termasuk di negara bagian konservatif seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.
Seorang peserta aksi di Virginia, John Ale, menyampaikan kekhawatirannya terhadap situasi politik di negara tersebut. Ia mengatakan “Apa yang terjadi di negara ini tidak berkelanjutan” dan menambahkan “Kelas menengah, rakyat kecil, tidak mampu lagi hidup. Dan dia (Trump) melanggar norma-norma, hal-hal yang membuat kita berfungsi sebagai sebuah negara.”
Isu Perang Iran
Demonstrasi juga diwarnai kritik terhadap kebijakan militer Amerika Serikat di Iran. Morgan Taylor, seorang peserta aksi di Washington yang datang bersama anaknya, menyebut operasi militer tersebut sebagai “perang bodoh”.
Ia menegaskan “Tidak ada yang menyerang kita” dan menambahkan “Kita tidak perlu berada di sana.”
Protes Meluas ke Luar Negeri
Selain di Amerika Serikat, aksi solidaritas juga digelar di berbagai negara lain di Eropa dan kawasan lain. Menurut Ezra Levin, salah satu direktur eksekutif Indivisible, demonstrasi terjadi di lebih dari selusin negara.
Di Roma, ribuan orang melakukan pawai sambil mengkritik kebijakan pemerintah Giorgia Meloni. Sementara di London para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Hentikan sayap kanan ekstrem” dan “Lawan rasisme.”
Di Paris, ratusan orang termasuk warga Amerika yang tinggal di Prancis berkumpul di Bastille untuk menyuarakan penolakan terhadap perang. Salah satu penyelenggara aksi, Ada Shen, mengatakan “Saya memprotes semua perang Trump yang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tidak berguna, serta tak berkesudahan.” tegasnya (*)



