Jakarta, Suarabersama.com – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan wacana pelarangan ekspor minyak jelantah sebagai bagian dari strategi nasional di sektor energi. Rencana tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2025).
Prabowo menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi produsen bahan bakar pesawat atau avtur terbesar di dunia. Salah satu bahan baku utama pembuatan avtur, menurutnya, berasal dari limbah minyak kelapa sawit atau jelantah.
“Sehingga maaf bangsa-bangsa lain, saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit, ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat Indonesia dulu,” ujar Prabowo.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi. Selain avtur, pemerintah juga mendorong pemanfaatan turunan kelapa sawit lainnya, seperti campuran minyak nabati untuk bahan bakar mesin diesel atau biosolar.
“Biosolar itu membuat kita bebas dari ketergantungan luar. Yang mau pakai bensin terus silahkan. Ya orang kaya bayar aja. Nggak apa-apa, harga dunia. Tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar,” kata Prabowo.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengungkapkan bahwa minyak sawit Indonesia menjadi komoditas strategis yang banyak diburu negara-negara lain. Ia menyebut permintaan datang dari berbagai negara, mulai dari Mesir, Pakistan, Rusia, hingga Belarusia.
“Saya keliling dunia, hampir semua pemimpin negara minta ke saya, kami mohon Indonesia tolong suplai kelapa sawit. CPO. Saya ke Mesir, saya ke Pakistan, saya ke Rusia, saya ke Belarus. Di mana-mana. Tolong kelapa sawit, artinya it’s a very strategic commodity,” ujarnya. (*)



