Suara Bersama

Prabowo Instruksikan Penyelamatan Cepat Korban Gempa M 7,6 di Sulut dan Malut

Jakarta, Suarabersama.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menekankan bahwa percepatan layanan darurat serta upaya penyelamatan warga harus menjadi fokus utama dalam penanganan bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Arahan tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis.

“Sebagaimana arahan Bapak Presiden, kita harus memberikan layanan yang sangat cepat. Penyelamatan masyarakat itu prioritas yang paling utama,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam konferensi pers, Kamis.

Dalam penjelasannya, Pratikno juga menyoroti pentingnya proses pendataan korban maupun kerusakan infrastruktur yang terdampak bencana.

Menurutnya, informasi yang akurat memiliki peran sangat penting dalam proses penanganan pascabencana, karena dapat mempercepat evakuasi serta memastikan distribusi bantuan berjalan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Di awal-awal ini harus terus dilakukan pencarian, penyelamatan, evakuasi korban secepat-cepatnya. Memperoleh pelayanan sebaik-baiknya,” ucap dia.

Lebih lanjut, Pratikno menyampaikan bahwa tahap rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana harus dilakukan secara hati-hati dengan mengikuti ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan pemerintah.

Ia juga menilai bahwa peristiwa bencana dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi risiko bencana di masa depan.

“Mereka (masyarakat) paham tentang gempa, paham tentang cara menyelamatkan diri,” tuturnya.

Selain itu, Pratikno meminta pemerintah daerah agar memastikan pembangunan yang dilakukan setelah bencana tidak justru memicu risiko baru bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap pembangunan harus memenuhi standar keselamatan agar tidak menimbulkan dampak buruk seperti banjir maupun kerusakan akibat struktur bangunan yang tidak sesuai standar.

“Jangan sampai justru pembangunan mengakibatkan banjir, jangan sampai pembangunan mengakibatkan risiko bagi masyarakat, misalnya karena struktur bangunannya tidak memenuhi standar dan seterusnya,” kata Pratikno.

Sebelumnya, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi di laut sekitar 129 kilometer tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 33 kilometer.

Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

Getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah, termasuk Ternate di Maluku Utara dengan intensitas V–VI MMI, Manado dengan intensitas IV–V MMI, serta sejumlah wilayah di Gorontalo dengan intensitas II–III MMI.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya sempat menetapkan status siaga tsunami di beberapa wilayah seperti Ternate, Halmahera, dan Bitung, serta status waspada di sejumlah wilayah lain di Sulawesi Utara. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 12 =