Jakarta, Suarabersama.com – Musisi yang juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik, Tompi, menjadi perhatian publik setelah menyampaikan kritik terbuka terhadap materi stand-up comedy yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono. Sorotan Tompi tertuju pada candaan Pandji yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang dinilainya kurang tepat disampaikan di ruang publik.
Tompi menegaskan kritik tersebut sama sekali tidak dilatarbelakangi persoalan pribadi. Ia menekankan bahwa keberatannya murni berkaitan dengan substansi materi komedi yang menurutnya tidak mencerminkan kritik yang cerdas. Pernyataan itu disampaikan Tompi di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (5/1), menyusul unggahan di media sosialnya yang viral dan memicu diskusi luas.
Dalam unggahan tersebut, Tompi mengulas bagian dari pertunjukan stand-up comedy Pandji bertajuk Mens Rea, di mana Pandji menyamakan penampilan Gibran dengan orang yang terlihat mengantuk. Ia menilai penting bagi publik untuk membedakan antara kritik personal dan kritik yang bersifat membangun.
Meski melontarkan kritik, Tompi menegaskan hubungannya dengan Pandji tetap terjalin baik. Keduanya bahkan disebut pernah bekerja sama dalam sejumlah proyek. Tompi juga mengakui bahwa secara umum ia sejalan dengan banyak materi politik yang disampaikan Pandji. Namun, ia menyayangkan penggunaan kondisi fisik sebagai bahan candaan dalam konteks kritik politik.
Kronologi Kritik Tompi terhadap Candaan Pandji
Polemik ini bermula dari unggahan Tompi di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi. Dalam unggahan tersebut, ia secara terbuka menyampaikan keberatan atas candaan Pandji yang menyinggung kondisi fisik Gibran. Menurut Tompi, menjadikan tubuh seseorang sebagai objek humor bukanlah bentuk kritik yang bermutu.
Ia menilai kritik seharusnya diarahkan pada kinerja, kebijakan, atau gagasan, bukan pada aspek personal yang tidak relevan. Dalam unggahannya, Tompi menuliskan bahwa “Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir.” Pernyataan tersebut sontak menyedot perhatian publik dan memicu perdebatan di media sosial.
Meski demikian, Tompi kembali menegaskan bahwa ia tidak menolak keseluruhan materi Mens Rea. Ia menilai keresahan yang diangkat Pandji dalam komedinya juga dirasakan oleh banyak masyarakat. Hanya saja, ada satu bagian yang menurutnya keluar dari esensi kritik yang konstruktif.
Penjelasan Medis Tompi soal Kondisi Ptosis Gibran
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi turut memberikan penjelasan medis terkait kondisi mata Gibran yang menjadi bahan candaan. Ia menyebut tampilan mata yang terkesan mengantuk merupakan kondisi anatomis bawaan sejak lahir yang dikenal dengan istilah ptosis.
Ia menjelaskan ptosis terjadi ketika otot levator kelopak mata lebih panjang dan turun, sehingga bukaan mata tidak maksimal. Kondisi ini menyebabkan kelopak mata tampak turun dan memberi kesan mengantuk. Menurut Tompi, pada usia dewasa seperti Gibran, tingkat ptosis tersebut tergolong ringan.
Penjelasan medis ini dimaksudkan untuk mengedukasi publik bahwa kondisi fisik tertentu bukan pilihan atau sesuatu yang mudah diubah. Oleh karena itu, menjadikannya sebagai bahan candaan dinilai tidak etis dan tidak berkaitan dengan substansi kritik politik.
Respons Pandji dan Batas Etika dalam Komedi
Kritik Tompi tersebut mendapat tanggapan langsung dari Pandji Pragiwaksono. Melalui kolom komentar unggahan Tompi, Pandji menunjukkan sikap terbuka dan menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan. Interaksi ini mencerminkan adanya dialog yang relatif konstruktif meski diwarnai perbedaan pandangan.
Peristiwa ini kembali memunculkan diskursus mengenai batasan dalam dunia stand-up comedy, khususnya saat mengkritik tokoh publik. Garis pemisah antara kritik terhadap kebijakan dan serangan personal menjadi sorotan utama.
Baik Tompi maupun Pandji sama-sama sepakat bahwa kritik politik merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, penyampaiannya perlu dilakukan secara cerdas, relevan, dan tidak merendahkan martabat individu. Polemik ini menjadi pengingat bagi publik dan kreator konten tentang pentingnya etika dalam menyampaikan kritik di ruang publik. (hni)



