Suara Bersama

Pertamina Tingkatkan Daya Saing UMKM Melalui Pendampingan dan Akses Pasar

Jakarta, Suarabersama.com – Pertamina terus memperkuat komitmennya dalam mendukung perkembangan usaha mikro dan kecil (UMK) melalui program Pertapreneur Aggregator. Hingga Maret 2026, program tersebut mencatat perkembangan positif dengan total omzet mitra mencapai Rp5,72 miliar serta terbentuknya ekosistem usaha yang semakin berkembang.

Program Pertapreneur Aggregator (PAG) merupakan inisiatif strategis Pertamina yang dirancang untuk melatih pelaku UMK agar mampu berperan sebagai agregator atau penghubung usaha. Melalui program ini, pelaku UMK yang terpilih tidak hanya difokuskan pada pengembangan usahanya sendiri, tetapi juga didorong membantu usaha kecil lain agar dapat berkembang dan “naik kelas” dengan membuka akses pasar yang lebih luas serta memperkuat jaringan dan rantai pasok antar pelaku usaha.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan bahwa program tersebut menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus membantu UMK berkembang secara berkelanjutan.

“Melalui Pertapreneur Aggregator, kami ingin mencetak pemimpin-pemimpin UMK yang adaptif dan mampu mengelola ekosistem bisnisnya secara efektif. Program ini membantu mereka memperkuat kolaborasi dan kemitraan, sehingga UMK lokal kita memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional maupun global,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.

Pada tahun ini, program PAG diikuti oleh 10 pemenang terbaik hasil kurasi nasional yang berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari makanan olahan, produk kesehatan, fesyen hingga kerajinan. Para peserta mendapatkan pendampingan intensif untuk mempercepat pertumbuhan usaha melalui pendekatan riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

Ciptakan ekosistem bisnis bagi UMKM

Salah satu manfaat utama dari program ini adalah terbentuknya ekosistem bisnis yang berkelanjutan melalui kolaborasi antar pelaku usaha. UMK yang mengikuti program memperoleh dukungan teknis maupun manajerial, seperti penguatan model bisnis, validasi pasar, hingga analisis keuangan.

“Dengan menjadi agregator, pertumbuhan satu UMK akan memberikan dampak berantai bagi UMK lain dalam jaringannya, baik dalam hal peningkatan kapasitas produksi maupun kualitas produk,” kata dia.

Salah satu pemenang program, Rendang Gadih, berhasil mencatat kinerja penjualan yang sangat baik, khususnya selama momentum Ramadan. Hingga Maret 2026, usaha tersebut telah membukukan omzet sebesar Rp5,72 miliar yang menunjukkan kuatnya pengelolaan mitra produksi dan distribusi. Untuk memperluas pasar, Rendang Gadih juga tengah menyiapkan kerja sama dengan ritel modern Foodhall serta rencana co-branding bersama Pertamina.

Sementara itu, pemenang lainnya yakni Bali Honey juga menunjukkan peningkatan kualitas produk yang signifikan. Persentase madu yang memenuhi standar kualitas meningkat dari 34 persen menjadi 70 persen hingga Maret 2026. Dari sisi pemasaran, Bali Honey juga terus menjajaki peluang ekspansi dan telah mencatat omzet sebesar Rp648,7 juta.

“Ke depan, Pertamina akan terus memperkuat program ini melalui pendampingan intensif, perluasan akses pasar, serta simulasi akses pendanaan agar UMK binaan semakin berdaya saing,” ungkap Baron. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − twelve =