Suara Bersama

Pengamat Timur Tengah : Keterlibatan Eropa Bisa Perluas Perang Iran

Jakarta, Suarabersama.com – Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menilai keputusan negara-negara Eropa untuk tidak terlibat dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dipengaruhi oleh kekhawatiran kehilangan reputasi politik di panggung internasional.

Menurutnya, keterlibatan negara-negara Eropa dalam perang yang dipicu oleh Washington dan Tel Aviv berpotensi memperluas skala konflik serta memperparah dampaknya bagi stabilitas global.

“Memang benar kalau negara-negara Eropa yang merupakan sekutu Amerika terlibat dalam perang melawan Iran, itu artinya perang akan semakin luas, akan sulit dihentikan, dan efeknya, dampaknya secara global akan signifikan,” ujarnya dalam program Breaking News KompasTV, Rabu (18/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa alasan lain di balik sikap para pemimpin Eropa adalah keengganan untuk kehilangan muka di hadapan publik internasional.

“Yang kedua adalah kenapa akhirnya pemimpin Eropa tidak mau terlibat, tidak mau membantu (Presiden AS) Trump, karena mereka sadar, mereka tidak mau kehilangan muka. Ini yang sedang dialami oleh (Presiden AS Donald) Trump bersama (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu.”

Faisal menjelaskan bahwa Amerika Serikat yang dikenal sebagai kekuatan besar dunia serta Israel yang dianggap sebagai negara adidaya di kawasan Timur Tengah ternyata belum mampu melemahkan Iran secara signifikan.

“Mereka sama-sama menyerang negara yang sudah dilemahkan sejak 1979 melalui sanksi ekonomi maupun militer, tapi ternyata mereka tidak mampu menaklukkan rezim yang berkuasa sejak 1979 itu, walaupun sudah bertahun-tahun dikenai sanksi ekonomi dan militer,” katanya.

Ia menilai para pemimpin Eropa sebenarnya telah melihat kenyataan tersebut sejak tahun sebelumnya, sehingga mereka memilih tidak ikut terlibat dalam konflik yang berpotensi berkepanjangan.

Sebelumnya, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas, menegaskan bahwa Uni Eropa tidak berencana ikut dalam operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengamankan Selat Hormuz setelah jalur tersebut ditutup oleh Teheran menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Kallas sebagai tanggapan atas seruan Presiden AS, Donald Trump, yang meminta negara-negara Eropa serta sekutu Amerika untuk mengirim pasukan guna mengamankan selat strategis tersebut.

Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa tidak memiliki rencana memperluas Operasi ASPIDES hingga ke Selat Hormuz.

Operasi ASPIDES sendiri merupakan operasi angkatan laut gabungan negara-negara Eropa yang bertugas menjaga keamanan pelayaran di Laut Merah dari ancaman kelompok Houthi Movement di Yaman. Kelompok tersebut sebelumnya menyerang sejumlah kapal yang dianggap berafiliasi dengan Israel di tengah konflik di Gaza Strip.

Kallas, yang juga merupakan mantan Perdana Menteri Estonia, menegaskan bahwa Uni Eropa tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Menurutnya, tujuan dari operasi militer tersebut masih belum jelas.

“Untuk saat ini, kami tidak berminat untuk mengubah mandat Operasi ASPIDES,” kata Kallas dalam konferensi pers setelah pertemuan Dewan Luar Negeri Uni Eropa di Brussel, Belgia.

Ia menambahkan bahwa motif politik di balik perang tersebut masih dipertanyakan.

“Tujuan dari aksi militer ini seharusnya ditanyakan kepada mereka yang memulai perang. Eropa bukanlah bagian dari perang ini. Tujuan politis dari perang ini tidak jelas,” tambahnya.

Meski demikian, Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa tetap memprioritaskan kelancaran distribusi kebutuhan penting dunia seperti pangan, energi, dan pupuk melalui jalur pelayaran di Selat Hormuz. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + 11 =