Jakarta, suarabersama.com – Pemerintah menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengambil atau mengurangi anggaran sektor pendidikan. Klarifikasi ini disampaikan untuk merespons berbagai narasi di ruang publik yang menyebut program tersebut menyedot dana besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, menjelaskan bahwa anggaran pendidikan pada 2026 mencapai sekitar Rp769,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp223,5 triliun dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program MBG yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional.
Menurut Hariqo, program tersebut justru mendukung efektivitas pendidikan karena kondisi gizi siswa berpengaruh langsung terhadap kemampuan belajar.
“Gizi adalah fondasi dari proses belajar. Program MBG memastikan anggaran pendidikan yang besar benar-benar berdampak karena siswa datang ke sekolah dalam kondisi siap belajar,” ujarnya dalam sebuah siniar di Jakarta.
Bagian dari Sistem Pendidikan
Pemerintah menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari kebijakan pendidikan, bukan pengalihan anggaran dari sektor lain. Ia juga menekankan bahwa sejumlah program pendidikan tetap berjalan dan bahkan mengalami peningkatan, termasuk tunjangan guru serta berbagai bantuan pendidikan.
Hariqo menjelaskan, dokumen anggaran yang beredar di publik sebenarnya menunjukkan klasifikasi fungsi anggaran pendidikan, bukan pemotongan dana pendidikan. Karena itu, kesalahpahaman muncul dari cara membaca struktur anggaran tersebut.
Ia menambahkan bahwa anggaran pendidikan 2026 telah disepakati bersama antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam proses pembahasan APBN.
Mendukung Pembangunan SDM
Pemerintah juga menilai program MBG tidak sekadar menyediakan makanan bagi siswa, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Data pemerintah menunjukkan masih banyak anak Indonesia yang belum memiliki pola makan sehat. Sekitar 96 persen masyarakat tercatat kurang mengonsumsi sayur dan buah, sementara 66 persen anak memiliki pola makan yang tidak seimbang. Selain itu, 32 persen remaja putri mengalami anemia dan sekitar 21 persen balita masih menghadapi masalah stunting.
Melalui program MBG, pemerintah berharap dapat membangun kebiasaan makan sehat sejak usia sekolah serta meningkatkan kesadaran gizi di kalangan generasi muda. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah menilai MBG menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan. (kls)



