Suara Bersama

Pemerintah Percepat Pembangunan Jalan Food Estate Wanam, Langkah Nyata Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Jakarta, Suarabersama.com – Pembangunan akses jalan di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, terus dipercepat guna mendukung pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) atau food estate Wanam yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Anggota tim survei Jhonlin Group, Alex Bastomi, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, menyampaikan bahwa pekerjaan pembangunan jalan tetap berlangsung meskipun menghadapi tantangan alam berupa wilayah rawa berlumpur, curah hujan tinggi, serta kondisi pasang surut air.

Menurutnya, progres perintisan jalan saat ini telah mencapai 58,44 kilometer, sementara ruas jalan yang telah diperkeras mencapai 11,53 kilometer. Selain itu, kegiatan pembukaan lahan di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 9.781 hektare.

Sebagai informasi, kawasan Wanam diproyeksikan menjadi salah satu pusat cadangan pangan nasional melalui program cetak sawah baru seluas satu juta hektare. Pengembangan wilayah tersebut meliputi pembangunan berbagai infrastruktur dasar, jaringan irigasi, serta akses transportasi untuk menunjang distribusi logistik dan hasil produksi pertanian.

Salah satu infrastruktur utama yang tengah dibangun adalah jalan sepanjang 135 kilometer yang menghubungkan Wanam dengan pusat Kota Merauke. Hingga akhir Januari 2026, progres fisik pembangunan jalan tersebut telah mencapai sekitar 58 kilometer, dan sebagian ruas sudah dapat dilalui kendaraan.

Alex menjelaskan bahwa beberapa bagian jalan yang telah diperkeras kini sudah bisa digunakan untuk menunjang aktivitas proyek, terutama dalam pengangkutan material pembangunan.

“Itu sudah bisa (dilewati) karena sudah kita perkeras dengan batu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihak Jhonlin Group akan terus berupaya mempercepat penyelesaian pembangunan infrastruktur tersebut. “Kita usahakan secepatnya (untuk rampung),” ucapnya.

Di sisi lain, masyarakat setempat mulai merasakan manfaat dari pembangunan akses darat di kawasan Wanam. Ulus, warga asli Merauke yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut material, mengaku kondisi akses transportasi saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya dirinya pernah bekerja sebagai tenaga harian dalam kegiatan survei saat pembangunan dermaga atau jetty Wanam pertama kali direncanakan.

“Sebelumnya saya di sini (kerja) harian survei untuk pas bangun jetty ini,” kata Ulus.

Menurutnya, sebelum adanya akses jalan darat, mobilitas masyarakat di wilayah Wanam sangat terbatas karena kondisi tanah berlumpur serta ketergantungan pada jalur transportasi air.

“Kalau sebelumnya di sini setengah mati (jalannya), karena daerahnya ini lumpur. Sekarang sudah mending,” ungkapnya.

Pembangunan jalan menuju kawasan KSPP Wanam juga dilengkapi dengan sistem drainase terintegrasi guna menjaga kestabilan badan jalan sekaligus mendukung sistem irigasi bagi lahan pertanian yang sedang dikembangkan.

Keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan mampu memperlancar distribusi logistik, menekan biaya transportasi, serta memperkuat upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional.

Sementara itu, Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyebut kualitas lahan food estate di Merauke dinilai lebih baik dibandingkan Australia untuk pengembangan kawasan lumbung pangan nasional berbasis produksi skala besar.

Dalam kegiatan Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) bertajuk “Ketahanan Pangan untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa” di Jakarta, ia menyampaikan bahwa sejumlah ahli menilai kualitas tanah di wilayah Papua sangat potensial untuk pengembangan pertanian skala besar.

Di sisi lain, pimpinan PT Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam, menyatakan komitmennya untuk mendukung pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pembangunan infrastruktur proyek cetak sawah satu juta hektare di Merauke.

“Ini adalah tugas negara yang diberikan kepada saya. Dalam benak saya, bagaimana gagasan cetak sawah satu juta hektare ini bisa terealisasi dan berhasil dalam tiga tahun tanpa berpikir untung rugi,” kata dia beberapa waktu lalu. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + three =