YOGYAKARTA , suarabersama.com – Persaingan global memperebutkan logam tanah jarang (LTJ) kian menguat. Mineral ini menjadi komponen penting dalam industri pertahanan, teknologi tinggi, energi terbarukan, hingga sistem komunikasi modern.
LTJ digunakan dalam mesin jet tempur, pesawat komersial, sistem rudal, perangkat elektronik canggih, hingga pembangkit energi satelit. Di tengah ketegangan geopolitik dan percepatan transisi energi, kebutuhan dunia terhadap mineral kritis tersebut terus melonjak.
Pemerintah Indonesia merespons situasi ini dengan membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoordinasikan riset, perumusan kebijakan, serta hilirisasi mineral strategis. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Sejumlah riset mengidentifikasi sedikitnya delapan titik potensial LTJ yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Temuan tersebut membuka peluang Indonesia masuk dalam peta produsen mineral kritis dunia.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Lucas Donny Setijadji, menjelaskan lonjakan perhatian dunia terhadap LTJ dipicu kebijakan Tiongkok yang membatasi ekspor komoditas itu beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, berbagai negara industri mempercepat eksplorasi dan pendanaan riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika.
Meski memiliki potensi besar, Indonesia belum memasuki tahap produksi komersial. Pemerintah memilih pendekatan hati-hati karena LTJ dipandang sebagai sumber daya strategis yang pengelolaannya harus sesuai amanat konstitusi.
Di tengah langkah agresif negara seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar yang telah lebih dulu memproduksi LTJ, Indonesia berupaya menata strategi jangka panjang agar tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga menguasai teknologi pengolahan dan hilirisasi.
Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, kini dinilai sebagai kawasan paling prospektif dan disiapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) hilirisasi LTJ nasional. Pemerintah berharap proyek ini menjadi fondasi pengembangan industri mineral kritis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di masa mendatang. (kls)



