Jakarta, suarabersama.com – Aktivitas influenza musiman di Amerika Serikat terus meningkat dan mencapai level mengkhawatirkan pada akhir Desember 2025. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) untuk pertama kalinya mengategorikan musim flu 2025–2026 sebagai musim dengan tingkat keparahan sedang atau moderately severe.
Berdasarkan data terbaru CDC yang dirilis Senin, jumlah kasus flu musim ini diperkirakan telah mencapai sedikitnya 11 juta orang. Selain itu, sekitar 120 ribu pasien dilaporkan menjalani perawatan di rumah sakit, sementara angka kematian akibat flu mencapai sekitar 5.000 kasus. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada musim flu sebelumnya. Pada musim 2024–2025, CDC mencatat sekitar 5,3 juta kasus, 63 ribu rawat inap, dan 2.700 kematian hingga akhir Desember.
Dokter kedokteran keluarga di Lenox Hill Hospital, Eric Ascher, menyebut angka kasus kemungkinan masih lebih besar dari data resmi. Menurutnya, banyak penderita flu tidak menjalani tes sehingga tidak tercatat dalam laporan. “Kasus flu sering kali tidak sepenuhnya terlaporkan. Puncaknya kemungkinan baru akan terlihat dalam satu hingga dua pekan ke depan,” ujar Ascher, dikutip dari Reuters. Sejumlah pakar kesehatan masyarakat menilai lonjakan kasus dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun, rendahnya tingkat vaksinasi, serta maraknya informasi keliru terkait vaksin flu.
Ascher menambahkan, penurunan cakupan vaksinasi dan ketidaksesuaian sebagian vaksin dengan virus yang beredar turut memperparah situasi musim flu tahun ini. Namun, profesor pediatri dari Johns Hopkins University School of Medicine, Aaron Milstone, mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan satu faktor tunggal sebagai penyebab utama lonjakan kasus.
CDC juga melaporkan satu kematian anak akibat flu pada pekan terakhir Desember, sehingga total kematian pediatrik pada musim flu 2025–2026 menjadi sembilan kasus. Lembaga tersebut memperkirakan aktivitas flu masih akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang. Dari sisi varian, influenza A(H3N2) tercatat sebagai strain yang paling dominan, mencakup lebih dari 91 persen kasus influenza A yang berhasil diidentifikasi subtipenya. Dari ratusan sampel virus A(H3N2) yang dianalisis secara genetik, mayoritas termasuk dalam subclade K.
Lonjakan kasus juga tercermin dari tekanan pada fasilitas kesehatan. CDC mencatat lebih dari 33 ribu pasien flu dirawat di rumah sakit pada pekan yang berakhir 27 Desember. Sementara itu, kunjungan rawat jalan akibat penyakit pernapasan meningkat menjadi 8,2 persen dari total kunjungan layanan kesehatan, melampaui ambang batas musiman. (kls)



