Jakarta, suarabersama.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Amerika Serikat bersikap tidak konsisten dan menjadi penyebab gagalnya perundingan damai kedua negara. Ia menyebut Washington kerap mengubah posisi dan menetapkan tuntutan baru di tengah proses negosiasi.
Melalui pernyataan di media sosial, Araghchi menilai Iran telah mengikuti pembicaraan dengan itikad baik untuk mengakhiri konflik. Namun, ketika kesepakatan disebut sudah hampir tercapai, justru muncul hambatan dari pihak AS berupa perubahan target dan sikap keras dalam perundingan.
Perundingan yang berlangsung lebih dari 20 jam di Islamabad itu menjadi kontak langsung pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979. Meski difasilitasi oleh pemerintah Pakistan, dialog tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kebuntuan terjadi karena Iran menolak tuntutan utama Washington, termasuk penghentian program nuklir Teheran.
Namun, sumber dari pihak Iran justru menilai AS tidak memenuhi sejumlah prasyarat yang diajukan sebelumnya. Salah satunya terkait pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Selain itu, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan lain dalam negosiasi, seperti kompensasi perang, gencatan senjata di kawasan konflik termasuk Lebanon, serta peran lebih besar dalam pengelolaan jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Kegagalan perundingan ini menambah panjang daftar ketegangan antara kedua negara, sekaligus menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih menghadapi tantangan besar. (kls)



