Jakarta, suarabersama.com – Iran diduga memanfaatkan sistem navigasi satelit milik China untuk meningkatkan akurasi serangan terhadap target militer di Timur Tengah, termasuk milik Israel dan Amerika Serikat.
Dugaan tersebut mencuat setelah sejumlah analis menilai rudal Iran menunjukkan tingkat presisi yang lebih tinggi dibandingkan konflik sebelumnya. Mantan pejabat intelijen Prancis, Alain Juillet, menyebut peningkatan akurasi itu kemungkinan terkait penggunaan sistem navigasi satelit BeiDou milik China.
Menurut Juillet, penggunaan BeiDou bisa menjadi penjelasan mengapa beberapa target strategis berhasil dihantam dengan presisi lebih tinggi. Ia menilai Iran kemungkinan mengganti sistem panduan berbasis Global Positioning System (GPS) dengan teknologi navigasi dari China.
Integrasi Teknologi Sejak Lama
Peneliti dari ChinaMed Project, Theo Nencini, mengatakan Iran sebenarnya telah menjalin kerja sama dengan China sejak 2015 untuk mengintegrasikan sistem BeiDou ke dalam infrastruktur militernya.
Integrasi tersebut diyakini semakin berkembang setelah kedua negara menandatangani kemitraan strategis jangka panjang pada 2021. Dalam kerja sama itu, Iran diduga memperoleh akses ke sinyal militer terenkripsi BeiDou yang memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan layanan sipil.
Teknologi tersebut kemudian disebut-sebut digunakan untuk mendukung sistem panduan rudal, drone, hingga jaringan komunikasi militer Iran.
Sistem Navigasi Global China
BeiDou merupakan sistem navigasi satelit global yang dikembangkan China sejak awal 2000-an sebagai pesaing GPS milik Amerika Serikat. Sistem ini resmi beroperasi penuh secara global pada 2020 dan kini menjadi salah satu jaringan navigasi terbesar di dunia.
Jika GPS menggunakan sekitar 24 satelit, jaringan BeiDou memiliki lebih dari 40 satelit yang mengorbit bumi untuk mengirimkan sinyal navigasi ke berbagai perangkat di darat maupun kendaraan.
Selain GPS dan BeiDou, dunia juga mengenal dua sistem navigasi global lainnya yaitu GLONASS milik Rusia serta Galileo yang dikembangkan Uni Eropa.
Iran Belum Beri Konfirmasi
Meski berbagai analisis bermunculan, pemerintah Iran belum mengonfirmasi penggunaan sistem navigasi tersebut dalam operasi militernya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari menewaskan sejumlah tokoh penting Iran. Serangan itu kemudian dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke beberapa target di kawasan, meskipun sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara. (kls)



