Suara Bersama

Inggris Pimpin Koalisi 35 Negara Buka Kembali Selat Hormuz

Jakarta, Suarabersama.com – Pemerintah Inggris memimpin upaya internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang diblokir oleh Iran. Sebanyak 35 negara, kecuali Amerika Serikat, akan berkumpul dalam pertemuan yang digagas Inggris dan Prancis untuk mencari solusi diplomatik dan militer.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa diskusi lanjutan mengenai pengamanan jalur pelayaran ini akan diadakan pada Kamis (2/4/2026). Menteri Luar Negeri Yvette Cooper akan berpartisipasi bersama para pemimpin internasional dalam pertemuan tersebut, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Pertemuan ini akan menyatukan 35 negara untuk mengevaluasi semua langkah diplomatik dan politik yang memungkinkan. Tujuannya adalah memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal dan pelaut yang terjebak, serta melanjutkan pergerakan komoditas penting. Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan bahwa ini adalah kali pertama negara-negara tersebut berdiskusi tentang rencana konkret untuk membuka kembali selat tersebut.

Starmer juga menyebutkan bahwa perencana militer Inggris akan bertemu setelahnya. Mereka akan membahas bagaimana mengerahkan kemampuan untuk menjadikan selat tersebut dapat diakses dan aman, setelah pertempuran berakhir.

Tantangan dan Kemitraan

Meskipun upaya sedang digalakkan, Starmer, yang telah mengadakan pertemuan dengan pemimpin industri energi dan perkapalan pada Senin sebelumnya, mengakui bahwa proses pembersihan akan memakan waktu lama setelah permusuhan usai. “Saya harus jujur kepada orang-orang soal hal ini, ini tidak akan mudah,” katanya.

Menurut Starmer, tantangan utama yang dihadapi oleh industri pelayaran bukan hanya soal asuransi, melainkan keselamatan dan keamanan navigasi. Oleh karena itu, diperlukan “front bersatu antara kekuatan militer dan aktivitas diplomatik, kemitraan dengan industri,” agar pergerakan dapat kembali normal setelah pertempuran berhenti. Dia menekankan bahwa kepemimpinan yang jelas dan tenang sangat dibutuhkan, dan Inggris siap menyediakannya.

“Pedoman saya sejak awal konflik ini selalu adalah kepentingan nasional Inggris. Dan kebebasan navigasi di Timur Tengah merupakan bagian dari kepentingan nasional Inggris,” tegas Starmer.

Negara-Negara yang Terlibat

Pertemuan ini akan dihadiri oleh negara-negara yang telah menandatangani pernyataan bersama bulan lalu, dan beberapa negara lain juga telah bergabung sejak itu. Di antara negara-negara tersebut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Nigeria.

Pernyataan tersebut mengikat negara-negara ini untuk “siap berkontribusi dalam upaya yang tepat guna memastikan perjalanan yang aman melalui selat tersebut.” AS dilaporkan tidak diundang secara langsung dalam pembicaraan ini. Fokusnya adalah pada negara-negara penandatangan pernyataan bersama, sekutu-sekutu Eropa lainnya, serta pemain maritim dan regional terkemuka.

Dampak Blokade Selat Hormuz

Blokade parsial oleh Iran terhadap Selat Hormuz, yang terjadi sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan AS dan Israel, telah menyebabkan sekitar 1.000 kapal tertahan. Sebelum konflik, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Selain itu, sekitar sepertiga pupuk global yang krusial bagi produksi pangan dunia juga melewati selat ini.

Sejak perang dimulai, hanya sekitar 130 kapal yang berhasil melintas, sebuah angka yang biasanya tercapai dalam satu hari sebelum konflik. Situasi ini menunjukkan urgensi untuk segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut demi stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 1 =