Jakarta, Suarabersama.com – Indonesia menyerukan penyelesaian damai atas eskalasi konflik antara Pakistan dan Afghanistan yang belakangan memicu kontak senjata di wilayah perbatasan kedua negara. Pemerintah Indonesia mendorong agar kedua pihak segera menempuh jalur dialog dan deeskalasi guna mencegah konflik berkepanjangan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa Indonesia berharap langkah penurunan ketegangan dapat segera dilakukan, disusul pembicaraan konstruktif untuk meredakan situasi.
“Indonesia berharap kedua negara bisa menyelesaikan permasalahan secara damai, mengedepankan dialog, dan melakukan deeskalasi,” kata Nabyl dalam taklimat media di Jakarta, Jumat.
Menurut Nabyl, seruan tersebut didasari kepedulian agar konflik bersenjata tidak semakin meluas dan menimbulkan korban di kalangan sipil. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat terdapat warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di kedua negara tersebut.
“Kita juga perlu memperhatikan keselamatan bagi para sipil, begitu pula dengan WNI yang berada di kedua negara,” kata jubir Kemlu itu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, memastikan bahwa seluruh WNI di Afghanistan dan Pakistan dalam kondisi aman meski situasi sempat memanas.
Ia menyebutkan, meskipun militer Pakistan dilaporkan mengarahkan serangan ke ibu kota Afghanistan, Kabul, tidak terdapat WNI yang terdampak.
“Seluruh WNI di Afghanistan dilaporkan dalam kondisi aman,” kata dia.
Kedutaan Besar Republik Indonesia Kabul (KBRI Kabul) telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI agar meningkatkan kewaspadaan, membatasi mobilitas di luar domisili, menghindari kawasan pemerintahan dan pusat keramaian, serta menjaga komunikasi intensif dengan pihak kedutaan.
Saat ini, jumlah WNI di Afghanistan tercatat sebanyak 43 orang, dengan 15 di antaranya merupakan keluarga besar KBRI Kabul.
Sebelumnya, Pakistan dilaporkan melancarkan serangan udara ke provinsi Nangarhar dan Paktika di Afghanistan. Otoritas Afghanistan menyatakan serangan tersebut menyebabkan puluhan warga sipil menjadi korban, termasuk perempuan dan anak-anak.
Sebagai respons, pada Kamis (26/2) malam waktu setempat, Afghanistan mengumumkan peluncuran operasi militer berskala besar terhadap pasukan Pakistan di sepanjang wilayah perbatasan. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut. (*)



