Suara Bersama

Indef Nilai Pertumbuhan Ekonomi 2025 Masih Bergantung Stimulus

Jakarta, suarabersama.com – Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 dinilai belum sepenuhnya menunjukkan penguatan yang bersifat mendasar. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai laju pertumbuhan yang tercatat lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya masih banyak ditopang faktor musiman dan belanja stimulus pemerintah.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus menyebut, secara umum pertumbuhan memang terlihat membaik jika dilihat dari sisi lapangan usaha. Namun, ia mengingatkan pentingnya menelusuri sumber pertumbuhan tersebut, apakah benar berasal dari peningkatan produktivitas atau sekadar terdorong dorongan sementara seperti belanja akhir tahun.

Menurut Heri, ketergantungan terhadap bantuan dan stimulus menjadi persoalan karena membuat ekonomi rentan melemah ketika dukungan itu berkurang. Ia menilai perbaikan fundamental di sektor-sektor utama belum tampak jelas.

Sepanjang 2025, arah pembangunan ekonomi sektoral juga dianggap belum tegas. Meski ekonomi tumbuh 5,39 persen pada triwulan IV dan secara tahunan mencapai 5,11 persen, akselerasinya dinilai belum kuat. Lonjakan di akhir tahun disebut lebih dipengaruhi pola musiman dibanding penguatan struktural.

Dari sisi pengeluaran, Indef menyoroti pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang hanya sekitar 5,09 persen—lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB).

Heri mencatat hanya ekspor dan konsumsi lembaga non-profit yang tumbuh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi. Sementara konsumsi rumah tangga dan investasi, yang seharusnya menjadi tulang punggung, justru berada di bawah angka tersebut. Hal ini dinilai menunjukkan pertumbuhan belum cukup kuat untuk mendorong transformasi ekonomi jangka panjang.

Ia juga mengingatkan adanya berbagai risiko, mulai dari tekanan global, gejolak pasar keuangan, hingga potensi bencana, yang bisa berdampak pada sektor riil jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Indef turut menyoroti sektor industri pengolahan yang masih menjadi kontributor terbesar PDB dengan porsi sekitar 19 persen. Pemerintah menargetkan kontribusinya meningkat hingga di atas 28 persen, namun hal itu dinilai sulit tercapai tanpa percepatan nyata di sektor industri.

Program-program prioritas pemerintah, termasuk yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan gizi, juga dinilai belum sepenuhnya mendorong akselerasi sektor pertanian dan agroindustri meski anggaran yang dialokasikan besar. Kondisi ini memunculkan pertanyaan soal efektivitas stimulus dalam menggerakkan sektor strategis.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut didukung kinerja triwulan IV yang mencapai 5,39 persen. Industri pengolahan disebut sebagai sumber pertumbuhan terbesar, disusul perdagangan, pertanian, dan konstruksi. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − eight =