Suara Bersama

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dollar AS di Tengah Ancaman Serangan ke Fasilitas Energi Iran

Jakarta, suarabersama.com – Lonjakan Harga Komoditas Berdasarkan data pasar terkini, dua acuan utama minyak dunia mencatatkan kenaikan signifikan:

  • West Texas Intermediate (WTI): Naik 2,64% menjadi US$101,32 per barel.
  • Brent: Meningkat 2,94% menjadi US$106,17 per barel.

Kenaikan ini terjadi di tengah sinyal dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang mempertimbangkan target serangan ke infrastruktur energi Iran sebagai respons atas gangguan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Meski saat ini serangan AS masih terbatas pada aset militer, pasar khawatir opsi penghancuran fasilitas energi tetap terbuka.

Ancaman terhadap Pasokan Global Pulau Kharg memegang peranan krusial bagi ekspor Iran dengan menangani sekitar 90% distribusi minyak negara tersebut. Analis JPMorgan memperingatkan bahwa serangan langsung ke lokasi ini dapat memangkas pasokan hingga 1,5 juta barel per hari.

Selain itu, konflik di kawasan ini meningkatkan risiko penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang melintasi 20% pasokan minyak dunia. Jika arus perdagangan di selat tersebut terganggu, dunia diprediksi akan menghadapi salah satu krisis pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Upaya Stabilisasi Internasional Dalam upaya meredam volatilitas harga, lebih dari 30 negara kini berkoordinasi untuk melakukan intervensi pasar. Sebanyak 400 juta barel cadangan minyak darurat akan segera digelontorkan ke pasar internasional, menjadikannya pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan.

  • AS: Akan melepaskan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR).
  • Asia, Eropa, dan Amerika: Negara-negara di kawasan ini dijadwalkan menyusul langkah tersebut secara bertahap mulai akhir Maret.

Ketidakpastian Masa Depan Meskipun ada tambahan pasokan dari cadangan strategis, pemerintah Amerika Serikat tidak memberikan jaminan harga akan segera stabil. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa dalam situasi perang, dinamika pasar tetap sangat tidak menentu. Pemerintah AS berargumen bahwa operasi militer yang dilakukan saat ini merupakan langkah perlu untuk menekan rezim Iran, meskipun risiko terhadap stabilitas energi global tetap tinggi. Sejak konflik dimulai tiga minggu lalu, harga minyak dunia tercatat telah melonjak lebih dari 40%, menandai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − eleven =