Suara Bersama

Harga Minyak Diprediksi Naik Tajam Usai Serangan AS ke Iran

Jakarta, Suarabersama – Harga minyak dunia diprediksi melonjak antara US$3 hingga US$5 per barel menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran. Saat penutupan akhir pekan lalu, minyak jenis Brent berada di angka US$77,01 per barel, sementara WTI (West Texas Intermediate) tercatat di US$73,84.

Kenaikan harga ini dinilai sebagai respons awal pasar terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik. Meski belum ada pembalasan langsung dari pihak Iran, para analis memperkirakan pasar akan tetap memperhitungkan risiko yang lebih tinggi akibat konflik tersebut.

Analis geopolitik menyebut bahwa risiko geopolitik akan mendorong pembentukan premi tambahan dalam harga minyak, meskipun pasokan secara umum masih stabil. Selain itu, sebagian pelaku pasar diprediksi akan melepas posisi beli mereka untuk mengamankan keuntungan jangka pendek.

Sejak awal konflik antara Israel dan Iran yang meletus pada pertengahan Juni, harga minyak mentah telah mengalami lonjakan signifikan. Brent naik sekitar 11%, dan WTI meningkat sekitar 10%.

Sanksi tambahan yang diberlakukan oleh pemerintah AS terhadap Iran, termasuk kepada entitas asing yang terlibat, juga berkontribusi pada ketegangan pasar energi. Namun, tidak terjadi lonjakan drastis pada harga sejauh ini, berkat kapasitas cadangan dari negara-negara produsen utama.

Para analis menekankan bahwa arah harga minyak selanjutnya akan sangat tergantung pada apakah konflik berkembang menjadi gangguan nyata terhadap pasokan. Jika tidak ada gangguan distribusi, maka potensi kenaikan bisa tertahan. Sebaliknya, eskalasi konflik bisa memicu lonjakan lebih tinggi.

Salah satu titik rawan adalah Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pengiriman minyak dunia. Pernyataan dari parlemen Iran menyebutkan kemungkinan penutupan selat tersebut sebagai bentuk pembalasan, meskipun ini dianggap sebagai skenario ekstrem yang kecil kemungkinan terjadi dalam waktu lama.

Penutupan selat akan berdampak langsung pada ekspor minyak Iran, terutama ke mitra dagang utama seperti China. Selain itu, tekanan diplomatik dari kekuatan ekonomi global akan menekan semua pihak untuk mencegah lonjakan harga minyak yang lebih luas.

AS mengklaim telah menghancurkan salah satu fasilitas nuklir penting Iran dalam operasi gabungan dengan Israel. Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, Iran pun bersumpah akan mempertahankan kedaulatannya dan membalas segala bentuk serangan yang membahayakan wilayah strategis atau instalasi vitalnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 2 =