Suara Bersama

Evakuasi Pesawat Jatuh di Pangkep Terkendala Cuaca dan Medan Ekstrem

Jakarta, Suarabersama.com – Pesawat carter jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu pekan lalu. Hingga Rabu (21/1), proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Berdasarkan manifes penerbangan, pesawat tersebut membawa tujuh awak penerbangan dan tiga penumpang. Dari total 10 orang di dalam pesawat, dua korban telah ditemukan, sehingga tim SAR gabungan saat ini memfokuskan operasi pencarian terhadap delapan korban lainnya.

Dari dua korban yang berhasil ditemukan, satu jenazah telah dievakuasi ke rumah sakit, sementara satu korban lainnya masih dalam proses pengangkatan dari lereng gunung.

Direktur Operasi Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa operasi SAR pada hari ini difokuskan untuk menyelesaikan evakuasi satu korban yang masih berada di medan serta melanjutkan pencarian delapan korban lainnya yang belum ditemukan.

“Kami juga berupaya menggunakan helikopter dalam operasi besok, dengan catatan kondisi cuaca memungkinkan. Sejak siang tadi juga telah dilakukan operasi modifikasi cuaca, dan rencananya akan kembali dilaksanakan besok pagi,” jelasnya di posko DVI Polda Sulsel.

Yudhi berharap kondisi cuaca cerah pada pagi hingga siang hari dapat mempercepat proses evakuasi dan pencarian, sehingga seluruh tugas kemanusiaan dapat dituntaskan secara optimal.

Dua jasad korban yang telah ditemukan diketahui berada di dalam jurang dengan kedalaman yang cukup ekstrem. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada Minggu (18/1) di kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung. Sementara korban kedua berjenis kelamin perempuan ditemukan pada Senin (19/1) di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Jenazah korban perempuan berhasil dievakuasi dan tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada Selasa (20/1) sekitar pukul 22.38 WITA. Yudhi menjelaskan bahwa proses evakuasi korban kedua membutuhkan waktu cukup lama akibat beratnya medan dan kondisi cuaca.

“Ini korban kedua yang kita temukan. Hampir dua hari lebih kami berusaha mengangkat korban ini ke puncak gunung,” kata Yudhi.

Ia menambahkan, tantangan utama dalam operasi evakuasi adalah medan yang ekstrem serta cuaca buruk yang terus melanda kawasan Gunung Bulusaraung. Hujan deras sejak siang hari memperlambat pergerakan tim SAR di lapangan.

“Korban baru bisa sampai di puncak gunung sekitar pukul 17.15 WITA. Kondisi medan sangat berat, ditambah hujan deras yang terus mengguyur lokasi,” ungkapnya.

Setelah berhasil dibawa ke puncak, jenazah korban kedua dievakuasi melalui jalur darat menuju posko taktis di Desa Tompo Bulu, sebelum akhirnya diserahkan ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut.

“Sampai dengan tadi, sekitar pukul 22.45 WITA, jenazah kami serahkan ke tim DVI untuk dilanjutkan proses identifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, jenazah korban pertama berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan sebelumnya hingga kini masih dalam proses evakuasi. Menurut Yudhi, posisi korban berada di medan dengan tingkat kesulitan yang serupa.

“Kami berharap secepatnya korban yang satu ini juga bisa sampai ke rumah sakit untuk dilakukan identifikasi,” katanya.

Dalam upaya mengevakuasi korban pertama, tim SAR gabungan menerapkan teknik rappelling di lokasi yang tidak jauh dari titik jatuhnya pesawat. Sebanyak 10 personel diturunkan ke dasar jurang untuk melakukan penyisiran dengan menyusuri alur air dan serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.

Salah satu rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi, mengungkapkan bahwa selama proses evakuasi yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca terus memburuk. Hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin membatasi pergerakan tim di lapangan.

Akibat kondisi tersebut, tim SAR memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berpotensi longsor. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.

“Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” katanya. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 12 =