Suara Bersama

Dari Kawan Jadi Lawan, Retaknya Hubungan Arab Saudi dan UEA di Tengah Konflik Timur Tengah

Riyadh, suarabersama.com – Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai mitra strategis di kawasan Teluk kini menunjukkan perpecahan yang semakin nyata. Dua negara berpengaruh ini perlahan bergerak ke arah berbeda, dipicu konflik regional, perebutan pengaruh, hingga perbedaan kepentingan geopolitik.

Hubungan erat antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan sebelumnya menjadi fondasi kuat kerja sama kedua negara. Bahkan, Sheikh Mohamed kerap disebut berperan penting dalam membentuk kepemimpinan Mohammed bin Salman pada masa awal kebangkitannya. Namun, seiring meningkatnya ambisi masing-masing negara, keselarasan itu mulai memudar.

Arab Saudi kini fokus mempercepat reformasi ekonomi domestik sekaligus menegaskan kembali posisinya sebagai pemimpin utama kawasan. Di sisi lain, UEA memperluas pengaruh regional melalui jaringan aliansi, termasuk dengan aktor non-negara di berbagai konflik Timur Tengah dan Afrika. Perbedaan arah ini membuat Riyadh dan Abu Dhabi berseberangan dalam isu produksi minyak, konflik Sudan, dinamika di Tanduk Afrika, hingga perang di Yaman.

Yaman menjadi salah satu titik paling jelas dari retaknya hubungan kedua negara. Ketegangan meningkat ketika Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA menguasai wilayah strategis di Hadramawt dan Mahra, yang sebelumnya berada di bawah kendali pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Bahkan, koalisi pimpinan Riyadh dilaporkan sempat menyerang pengiriman senjata yang diduga ditujukan kepada kelompok separatis tersebut.

Perbedaan kepentingan ini sebenarnya telah terlihat sejak UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman pada 2019. Pengamat menilai tujuan kedua negara di Yaman sulit disatukan. Arab Saudi lebih memilih menjaga keutuhan negara dan otoritas pemerintahan yang ada, sementara UEA dinilai lebih pragmatis dengan mendukung kekuatan lokal demi memperluas pengaruh.

Rivalitas juga dipicu perbedaan pandangan ideologis. UEA dikenal memiliki sikap keras terhadap kelompok Islam politik seperti Ikhwanul Muslimin, dan berupaya mendorong pendekatan tersebut ke kawasan. Sikap ini tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Arab Saudi.

Di Sudan, perbedaan sikap kedua negara semakin mencolok. Arab Saudi memberikan dukungan kepada militer Sudan, sementara UEA dituding membantu Pasukan Dukungan Cepat (RSF), meski tuduhan tersebut dibantah Abu Dhabi. Konflik Sudan pun menjadi arena lain persaingan pengaruh Riyadh dan Abu Dhabi.

Persaingan juga meluas ke kawasan Tanduk Afrika yang strategis. UEA memperkuat hubungan dengan Ethiopia dan Somaliland serta mengoperasikan pangkalan militer di Berbera. Sebaliknya, Arab Saudi mendukung pemerintah Somalia. Ketegangan kian terlihat ketika Israel mengakui Somaliland, langkah yang dikecam Arab Saudi namun tidak mendapat reaksi serupa dari UEA.

Meski masih menjaga hubungan diplomatik secara formal, retaknya hubungan Arab Saudi dan UEA mencerminkan perubahan peta kekuatan di Timur Tengah. Solidaritas lama kini tergeser oleh kepentingan nasional masing-masing, menjadikan dua sekutu lama itu semakin sering berhadapan sebagai rival regional. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =