Jakarta, Suarabersama.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Jenggalu, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wilayah Bengkulu menggelar Sosialisasi Anti-Terorisme dan Radikalisme, bertempat di Balai Desa Jenggalu, pada Senin (10/11/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, Tokoh adat, serta perwakilan masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat desa terhadap bahaya paham radikal dan terorisme, sekaligus memperkuat ketahanan sosial di tingkat akar rumput.
Kepala Desa Jenggalu Joni Midarling ST dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran BNPT Bengkulu yang memberikan pembinaan langsung kepada masyarakat.
“Kita berharap masyarakat Desa Jenggalu semakin waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyesatkan. Desa harus menjadi benteng pertama melawan paham radikal dan intoleran,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen Pemdes untuk terus menggandeng berbagai pihak, baik aparat keamanan maupun instansi vertikal seperti BNPT, dalam menjalankan program pembinaan masyarakat berbasis keamanan dan ketahanan sosial. kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa dalam mewujudkan masyarakat yang aman, harmonis, dan berdaya saing. Ia juga berencana mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan kebangsaan ke dalam kegiatan sosial dan keagamaan di tingkat desa.
“Kami ingin Desa Jenggalu menjadi contoh desa yang toleran, damai, dan terbuka. Ini sejalan dengan semangat nasional menjaga keutuhan NKRI dari ancaman ideologi ekstrem,” tambahnya.

Sementara itu, Tim pencegahan Satgaswil Bengkulu BNPT Rico menjelaskan bahwa penyebaran paham radikal kini tidak hanya melalui pertemuan langsung, tetapi juga melalui media sosial dan platform digital, sehingga masyarakat perlu bijak dalam menyaring informasi.
“Radikalisme bisa tumbuh dari ketidaktahuan dan kurangnya literasi digital. Karena itu, peran keluarga, tokoh agama, dan pemerintah desa sangat penting dalam mencegahnya sejak dini,” Ujar Rico
Rico juga mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melaporkan setiap aktivitas yang mencurigakan di lingkungan sekitar, baik berupa pertemuan tertutup yang tidak lazim, ajakan untuk menolak pemerintah, maupun penyebaran ujaran kebencian berbasis agama atau etnis.
BNPT berharap, melalui pemahaman ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor aktif dalam menjaga keamanan wilayahnya sendiri
“Peran desa sangat vital. Dengan masyarakat yang sadar dan aktif melapor, kita bisa mencegah potensi ancaman sebelum menjadi masalah besar,” tutup Rico.
Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya diisi dengan pemaparan materi tetapi juga diskusi interaktif. Para peserta diberi kesempatan bertanya langsung terkait cara mengenali tanda-tanda awal radikalisme serta langkah preventif yang bisa dilakukan di tingkat keluarga dan komunitas.



