Jakarta, Suarabersama.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menilai keterlibatan guru dan mahasiswa menjadi faktor penting dalam penguatan pendidikan gizi di sekolah dan perguruan tinggi, terutama seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya pemenuhan gizi seimbang.
“Dengan memahami nilai gizi hidangan MBG, konsumsi makanan para siswa akan semakin optimal. Saya kemarin sudah bertemu dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), saya meminta agar di sekolah-sekolah nanti ada jam pelajaran gizi,” kata Wakil Ketua BGN Nanik Sudaryati Deyang dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Menurut Nanik, penambahan jam pelajaran gizi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa sekaligus membangun kesadaran akan dampak positif pemenuhan gizi yang baik. Kesadaran tersebut diyakini mendorong kebiasaan konsumsi makanan sehat seperti sayur, lauk, buah, dan susu, sehingga dapat menekan jumlah makanan yang terbuang.
Nanik juga menjelaskan dasar kebijakan Program MBG yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Program MBG. Tim koordinasi tersebut melibatkan 17 kementerian dan lembaga, dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebagai ketua.
“Jadi, berdasarkan Keppres, BGN tidak lagi bekerja sendiri dalam mengelola Program MBG, termasuk juga dalam upaya sosialisasi gizi dan pemenuhan gizi,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika sebelumnya edukasi gizi dilakukan secara berkala oleh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekolah penerima manfaat, ke depan peran guru akan diperkuat dan bahkan menjadi garda utama dalam pemberian pendidikan gizi kepada siswa.
Selain itu, BGN juga menyiapkan kerja sama riset dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terkait berbagai aspek pelaksanaan MBG. Kerja sama ini akan melibatkan pakar pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat dari perguruan tinggi, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang didorong berperan sebagai penyuluh gizi di wilayah penugasannya. (hni)



