Jakarta, suarabersama.com – Di tengah riuhnya seruan aksi bertajuk “Bersatu Adili Jokowi,” muncul gerakan alternatif yang mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada upaya konstruktif demi kemajuan bangsa. Gerakan ini membawa pesan persatuan, mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintahan sebaiknya tidak dibawa ke arah destruktif, tetapi menjadi energi positif untuk mencari solusi bersama.
Tokoh masyarakat, ekonom, dan pemimpin organisasi sipil turut menyuarakan bahwa di masa krisis ekonomi global seperti saat ini, Indonesia membutuhkan stabilitas dan kerja sama. “Mengkritisi kebijakan pemerintah tentu hak setiap warga negara. Tapi, alangkah baiknya jika kritik itu diiringi dengan solusi dan keterlibatan aktif dalam pembangunan,” ujar Budi Hartanto, pengamat politik dan akademisi dari Universitas Indonesia.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo selama ini telah melakukan berbagai langkah progresif, seperti pengembangan infrastruktur dan reformasi birokrasi, meskipun diakui masih ada ruang untuk perbaikan. Inisiatif seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), perbaikan pelayanan publik, dan pengendalian pandemi Covid-19 di masa lalu mendapat apresiasi dari banyak pihak.
“Kita bisa berbeda pendapat, tapi jangan sampai terpecah belah. Yang terpenting adalah menjaga semangat kebersamaan dan mencari jalan keluar untuk masalah-masalah bangsa,” kata Arifin Yusuf, tokoh muda dan pegiat sosial.
Sementara itu, banyak masyarakat menganggap narasi seperti “Bersatu Adili Jokowi” lebih bersifat politis dan berisiko menimbulkan polarisasi di masyarakat. Mereka khawatir bahwa aksi-aksi serupa dapat menghambat proses demokrasi dan menciptakan ketidakstabilan sosial.
Sebagai bangsa yang besar, perbedaan pendapat seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling menjatuhkan. Kini, momentum persatuan dan gotong-royong semakin dibutuhkan untuk membawa Indonesia keluar dari tantangan yang ada dan menuju masa depan yang lebih cerah.



