Suara Bersama

Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan Luncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia

Jakarta, suarabersama.com – Inovasi digital kini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah. Seiring implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030, transformasi sistem pembayaran nasional menunjukkan lonjakan signifikan.

Data Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS mendekati 300 miliar transaksi per tahun dengan nilai lebih dari Rp50 triliun. Sementara itu, transaksi BI-FAST telah menembus Rp1,84 kuadriliun. Transformasi ini bahkan mendapat pengakuan internasional, termasuk dari Islamic Development Bank yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu rujukan praktik baik digitalisasi sistem pembayaran.

Namun, di balik capaian tersebut, tantangan masih membayangi, terutama terkait ketersediaan talenta digital dan risiko keamanan siber yang semakin kompleks. Untuk menjawab kebutuhan itu, BI bersama OJK menginisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang resmi diperkenalkan di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Gubernur BI Perry Warjiyo mendorong generasi muda meninggalkan warisan berupa karya digital yang berdampak nyata. Menurutnya, inovasi anak muda harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.

HACKATHON x DIGDAYA 2026

Ekosistem PIDI tahun ini diwujudkan melalui program HACKATHON x DIGDAYA 2026 yang membuka pendaftaran hingga 27 Maret 2026. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, Asosiasi Fintech Indonesia, Asosiasi Penyelenggara Uang Kripto Indonesia, serta Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia.

DIGDAYA—singkatan dari Digital Talenta Berbudaya dan Berkarya—menjadi jalur pelatihan dan sertifikasi berjenjang untuk meningkatkan kapasitas talenta muda. Sementara Hackathon berfungsi sebagai laboratorium inovasi nasional guna menguji ide dan membangun prototipe sesuai kebutuhan industri.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono menargetkan partisipasi 800 tim atau sekitar 3.000 talenta digital dari seluruh Indonesia. Peserta akan mengikuti pelatihan dasar selama delapan minggu sebelum diseleksi ke tahap praktisi. Dari ratusan proposal, 80 tim terbaik akan dipertemukan dengan investor, dan 10 pemenang utama akan diumumkan dalam ajang Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) pada September 2026.

Pendampingan hingga Pendanaan

Berbeda dari kompetisi teknologi pada umumnya, PIDI menjanjikan pendampingan berkelanjutan. Mentor yang terlibat berasal dari regulator, industri, akademisi, hingga pakar global.

Salah satu alumni Hackathon sebelumnya, Gita Prasulistiyono Putra, berhasil mengembangkan Dewantara AI—solusi inklusi keuangan berbasis kecerdasan buatan melalui WhatsApp. Inovasi tersebut memudahkan masyarakat mengakses layanan keuangan tanpa proses registrasi yang rumit.

Melalui PIDI, BI dan OJK berharap lahir generasi inovator yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga mampu membangun model bisnis berkelanjutan. Langkah ini sekaligus memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia di tengah kompetisi global yang semakin ketat. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − eleven =