Suara Bersama

APEC Optimistis Ekonomi Asia Pasifik Tumbuh Positif Pada 2026

Jakarta, Suarabersama.com – Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) menyatakan optimisme terhadap kinerja perekonomian kawasan yang dinilai tetap solid. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik serta investasi di sektor berbasis teknologi tinggi, meskipun hambatan perdagangan global terus meningkat.

Berdasarkan laporan terbaru Analisis Tren Kawasan APEC, pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan mencapai 3,2 persen, sementara pada 2026 diproyeksikan berada di level 3,1 persen.

“Prospek pertumbuhan jangka pendek telah meningkat, didukung oleh permintaan yang berkelanjutan, performa perdagangan yang baik, dan investasi di bidang kecerdasan artifisial yang kuat,” kata Direktur Satuan Dukungan Kebijakan APEC Carlos Kuriyama,  Kamis 12/2

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa aktivitas perdagangan tetap menunjukkan performa positif di tengah fragmentasi ekonomi global, terutama berkat dukungan sektor teknologi. Selama tiga kuartal pertama 2025, volume ekspor komoditas meningkat sebesar 8 persen, sementara impor naik 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perdagangan jasa juga masih tumbuh, meskipun lajunya tidak secepat tahun 2024 akibat melambatnya sektor perjalanan. Namun, pertumbuhan pada jasa transportasi serta jasa komersial lainnya mampu menahan tekanan perlambatan.

Dari sisi harga, inflasi di kawasan Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan turun menjadi 2,4 persen, lebih rendah dibandingkan 2,6 persen pada 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh biaya energi yang lebih rendah serta stabilisasi harga pangan dan perbaikan pasokan.

Meski demikian, APEC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2027 akan melambat ke level 2,9 persen, seiring adanya berbagai kendala struktural, fragmentasi perdagangan, serta risiko geopolitik yang berkelanjutan.

“Pembatasan perdagangan yang meningkat serta ketidakpastian kebijakan semakin menjadi beban bagi pertumbuhan jangka menengah,” kata Kuriyama.

Tekanan akibat tarif dan kebijakan non-tarif dinilai semakin membatasi ruang gerak perekonomian. Walaupun pelaku usaha masih berupaya menyesuaikan diri, meningkatnya intensitas hambatan perdagangan dikhawatirkan akan membuat proses adaptasi menjadi semakin berat.

Selain itu, laporan APEC menyoroti meningkatnya perdagangan semikonduktor yang dipicu oleh lonjakan permintaan sektor kecerdasan artifisial (AI). Kondisi ini memang mendorong produktivitas, namun juga berpotensi menimbulkan risiko konsentrasi investasi serta kerentanan rantai pasok.

Oleh sebab itu, APEC mendorong negara-negara anggota untuk memperkuat kredibilitas kebijakan, menyelaraskan investasi AI dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta memperdalam koordinasi kebijakan guna menjaga kesinambungan pertumbuhan dan meminimalkan ketidakpastian dunia usaha. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =