Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membagikan sejumlah kiat mitigasi bencana kepada masyarakat menjelang perayaan tahun baru 2026. Salah satu langkah utama yang ditekankan adalah pentingnya memahami potensi risiko bencana serta mengetahui lokasi titik kumpul di sekitar tempat tinggal.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa kewaspadaan harus dimulai dari kebiasaan memantau informasi cuaca serta mengenali risiko di lingkungan sehari-hari.
“Pada prinsipnya, pertama selalu update prakiraan cuaca dari BMKG. Kemudian, ketahui potensi risiko yang ada di sekitar rumah tempat tinggal, tempat kerja, dan zona commute kita sehari-hari,” kata Abdul Muhari ditemui di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, prinsip kesiapsiagaan atau sedia payung sebelum hujan perlu diterapkan secara konsisten oleh masyarakat dengan terus mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan memahami potensi ancaman bencana di sekitar.
“Selain itu, kita juga perlu selalu tahu misalnya di rumah itu kalau ada potensi banjir harus ke mana. Kalau di tempat kerja ada potensi banjir atau dekat sungai, kalau ada kondisi kedaruratan harus ke mana, titik kumpul ke mana, jalur evakuasi di mana, dan biasakan di keluarga itu menyampaikan kalau ada kondisi-kondisi kedaruratan kita harus berkumpul di mana, jadi ada titik kumpul keluarga,” paparnya.
Selain kesiapan informasi dan pemahaman risiko, BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan tas siaga bencana. Tas tersebut disarankan berisi perlengkapan darurat sesuai arahan BMKG, mulai dari alat pertolongan pertama hingga dokumen-dokumen penting yang mudah dibawa saat terjadi kondisi darurat.
Tak hanya kepada masyarakat, BNPB juga meminta pemerintah daerah segera memastikan kesiapan mitigasi bencana menjelang pergantian tahun 2026. Pengecekan mencakup ketersediaan peralatan, sistem pendukung, sumber daya manusia, hingga kecukupan anggaran.
“Kepada seluruh provinsi, kabupaten, kota dan para pimpinan daerah agar segera melakukan pengecekan alat, perangkat, personil, dan anggaran. Kalau misal ada kekurangan atau kebutuhan intervensi pemerintah pusat untuk segera menetapkan status siaga darurat, maka segera lakukan supaya pemerintah pusat bisa langsung mendukung secara penuh,” tuturnya.
Lebih lanjut, Abdul menjelaskan bahwa sebagai langkah antisipasi di wilayah hulu, BNPB juga bekerja sama dengan BMKG untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Langkah ini dilakukan di sejumlah titik yang berdasarkan prakiraan cuaca dinilai membutuhkan intervensi guna mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi. (*)



