Jakarta, Suarabersama – Wakil Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik antara Israel dan Iran akan memperburuk situasi secara drastis di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa ini bukanlah perang milik AS, dan jika Washington turut campur, maka dapat menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan yang kompleks dan berkepanjangan.
Iran menyatakan bahwa serangan mereka terhadap Israel merupakan bentuk pertahanan diri atas serangan yang dilakukan lebih dahulu oleh pihak Israel, terutama terhadap fasilitas nuklir. Sementara itu, pihak militer Israel mengklaim telah menghantam situs-situs strategis Iran, termasuk reaktor nuklir di Arak dan fasilitas Natanz. Serangan ini menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di wilayah sipil seperti rumah sakit.
Kondisi memanas di kawasan telah menarik perhatian internasional, termasuk dari sekutu dekat AS seperti Inggris. Meskipun belum secara langsung terlibat, posisi Inggris menjadi sangat strategis, terutama karena keberadaan pangkalan militer di Diego Garcia dan Siprus. Kedua lokasi ini berpotensi digunakan dalam operasi militer AS jika konfrontasi meningkat.
Sementara Presiden AS sedang menimbang langkah militer, jalur diplomasi tetap menjadi opsi yang didorong oleh beberapa pihak, termasuk pertemuan-pertemuan tingkat tinggi yang direncanakan di Jenewa. Iran menegaskan keengganan mereka untuk bernegosiasi selama Israel terus melakukan serangan militer.
Isu program nuklir Iran tetap menjadi titik panas. Tuduhan bahwa Iran tengah memperkaya uranium hingga hampir ke tingkat senjata nuklir dibantah keras oleh Teheran. Mereka menyatakan bahwa program nuklir yang dimiliki bersifat damai dan tidak ditujukan untuk pengembangan senjata.
Kekhawatiran juga muncul terkait potensi keterlibatan militer Inggris, terutama jika AS memanfaatkan pangkalan bersama di Diego Garcia. Jika digunakan untuk melancarkan serangan ke Iran, Inggris bisa menjadi target balasan dari Teheran. Serangan ke pangkalan militer atau sabotase oleh jaringan pro-Iran di Eropa menjadi skenario yang dipertimbangkan oleh badan intelijen.
Ketegangan ini menjadi ujian berat bagi diplomasi internasional. Ketidaksepakatan soal arah konflik, tuduhan pelanggaran perjanjian nuklir, serta ancaman langsung terhadap infrastruktur strategis di kawasan, memperbesar risiko konflik terbuka yang melibatkan kekuatan besar dunia.



