Jakarta, Suarabersama.com – Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes memaparkan berbagai pilihan makanan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium anak tanpa harus bergantung pada susu sapi.
Selama ini, susu sapi kerap dipersepsikan sebagai sumber protein utama bagi anak. Padahal, dalam pedoman piramida gizi seimbang, susu hanya merupakan salah satu bagian dari kelompok pangan sumber protein, sehingga masih tersedia banyak alternatif lain yang bisa dimanfaatkan.
“Susu sapi itu di dalam piramida gizi seimbang, dia masuk ke dalam kelompok sumber protein. Jadi artinya kita tidak harus memaksakan pemberian susu jika kemudian tidak tersedia atau harganya relatif tidak terjangkau misalnya, karena mereka bisa digantikan dengan sumber protein yang lain,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ahli gizi yang tergabung dalam Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia (ISNA) tersebut menjelaskan bahwa kelompok protein dalam piramida gizi seimbang mencakup protein hewani dan nabati yang dapat saling melengkapi kebutuhan gizi anak.
Sumber protein hewani meliputi daging sapi, ikan, ayam, dan telur. Sementara itu, protein nabati dapat diperoleh dari tempe, tahu, berbagai jenis kacang-kacangan, serta produk olahan susu seperti keju.
Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan itu juga menegaskan bahwa tidak semua bahan pangan mengandung kalsium dalam jumlah tinggi, sehingga pemilihan menu perlu dilakukan secara bijak dan beragam.
Ia menambahkan, selain susu sapi, kalsium juga bisa diperoleh dari ikan yang dikonsumsi bersama tulangnya, seperti ikan teri basah dan ikan presto. Sumber kalsium lainnya antara lain tempe, kacang merah, kacang tanah, kacang kedelai, brokoli, serta berbagai jenis sayuran hijau.
“Ketika anak diberikan makanan beraneka ragam, artinya pemberian ikan, ada sayur, tempe, kalsiumnya itu relatif bisa terpenuhi walaupun memang tidak setinggi yang terdapat pada susu sapi. Kalau mereka diberikan secara beraneka ragam, kemungkinan kalsium itu relatif bisa memenuhi kebutuhan gizi anak,” ujar Ketua Pengurus Pusat ISNA (PP-ISNA) Periode 2018–2024 itu.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana juga menyampaikan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak perlu memaksakan pemberian susu dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila daerah tersebut tidak memiliki sumber susu lokal yang memadai. Program tersebut, kata dia, lebih mengutamakan pemanfaatan bahan pangan segar.
“Untuk daerah-daerah yang ada sapi perahnya kami izinkan mereka memberikan susunya, tapi bagi mereka yang jauh sapi perahnya dan belum ada, saya kira tidak perlu dipaksakan menggunakan susu. Bisa diganti dengan sumber kalsium lainnya,” kata Kepala BGN Dadan, saat peninjauan ke SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis. (hni)



