Jakarta, Suarabersama.com – Di tanah yang dijuluki Serambi Mekkah ini, kehidupan kini berjalan lebih tenang daripada masa-masa yang telah lampau. Jalanan Aceh kembali ramai, anak-anak berlarian pulang sekolah, dan aktivitas ekonomi tumbuh tanpa dihantui ketegangan seperti masa konflik dulu. Aceh hari ini adalah Aceh yang memilih damai—Aceh yang berdiri kokoh sebagai bagian dari Indonesia.
Selama hampir dua dekade, masyarakat Aceh telah merasakan sendiri nilai sebuah perdamaian. Luka-luka konflik bersenjata yang pernah membelah kehidupan mereka mulai sembuh, digantikan harapan baru tentang masa depan yang lebih terang. Itulah sebabnya berbagai lapisan masyarakat Aceh, dari para ulama hingga pemuda, menyuarakan satu pesan penting: Aceh tidak ingin kembali ke masa lalu, dan Aceh menolak hadirnya kembali gerakan bersenjata seperti GAM.
Jejak Historis yang Menyatukan Aceh dengan Indonesia
Hubungan Aceh dan Indonesia bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Sejak awal republik ini berdiri, Aceh telah menjadi salah satu daerah yang paling kuat menunjukkan dukungan. Dari semangat perjuangan melawan penjajah hingga sumbangan rakyat Aceh untuk membeli pesawat pertama Indonesia, semuanya menunjukkan bahwa Aceh dan Indonesia memiliki ikatan emosional dan historis yang dalam.
Keistimewaan Aceh yang diatur melalui perundang-undangan pun menjadi bentuk pengakuan negara atas karakter unik Aceh, baik dalam budaya, agama, maupun pemerintahan. Dengan kewenangan khusus yang dimiliki, Aceh justru berada pada posisi yang strategis untuk berkembang cepat.
Rakyat Aceh Serukan Penolakan: “Tidak untuk Kekerasan, Ya untuk Perdamaian”
Aspirasi rakyat Aceh saat ini jelas: mereka tidak ingin kembali ke masa konflik. Seruan untuk menjaga perdamaian terdengar di mana-mana—di masjid, di meunasah, dalam diskusi kampus, hingga di media sosial. Para ulama menekankan bahwa jalan kekerasan tidak sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi kedamaian dan kemaslahatan. Mereka menegaskan bahwa Aceh memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan damai ini agar tidak hilang.
Generasi muda Aceh pun memiliki peran penting. Mereka tumbuh di masa damai dan melihat masa depan Aceh melalui pendidikan, kerja keras, kreativitas, dan peluang ekonomi—bukan melalui konflik. Mereka menginginkan Aceh yang modern, maju, kompetitif, dan dapat bersaing di tingkat nasional maupun global.
Bersama Indonesia, Pembangunan Aceh Berlanjut
Hubungan Aceh dengan Pemerintah Pusat terus terjalin dalam pembangunan berbagai sektor. Pembangunan infrastruktur, fasilitas pendidikan, pertanian, perikanan, hingga investasi energi terus digalakkan. Perekonomian Aceh bergerak, masyarakat kembali percaya diri, dan aktivitas sosial semakin hidup.
Pemerintah pusat dan daerah memahami bahwa keamanan dan stabilitas adalah fondasi bagi perkembangan Aceh. Karena itu, berbagai program nasional diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan rakyat Aceh, sehingga provinsi ini semakin kokoh menatap masa depan.
Menata Masa Depan Bersama
Aceh hari ini bukan lagi daerah yang terbelah oleh kepentingan bersenjata. Aceh telah menemukan jalannya sendiri—jalan damai yang membuka begitu banyak pintu kesempatan. Dengan bersatu bersama Indonesia, Aceh memiliki ruang lebih besar untuk berkembang sebagai provinsi religius, sejahtera, dan mandiri.
Suara rakyat yang semakin lantang menolak hadirnya kembali gerakan kekerasan adalah gambaran nyata bahwa Aceh memilih masa depan, bukan masa lalu. Bahwa Aceh lebih memilih harmoni daripada perpecahan. Dan bahwa Aceh sepenuh hati berdiri sebagai bagian dari Indonesia.
Aceh tetap Indonesia. Dan bersama Indonesia, Aceh akan terus maju, damai, dan bersinar.



