Jakarta, Suarabersama.com – Aceh dikenal sebagai daerah yang kaya sejarah, budaya, serta ketangguhan masyarakatnya. Tanah Serambi Makkah ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Dari masa perjuangan merebut kemerdekaan hingga pembangunan di era modern, Aceh tidak pernah berdiri sendiri—Aceh selalu berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun demikian, masih terdapat pihak-pihak tertentu yang mencoba membangkitkan kembali bayang-bayang masa lalu dengan mengusung ide perpecahan, termasuk gerakan-gerakan yang mengatasnamakan perjuangan Aceh tetapi justru merusak keamanan dan keharmonisan masyarakat. Munculnya kembali narasi yang bersinggungan dengan ideologi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi perhatian serius bagi publik. Aceh sudah melangkah jauh maju ke depan; masyarakatnya tidak ingin kembali terjebak dalam konflik yang menyisakan luka mendalam.
Aceh Hari Ini: Damai, Berkembang, dan Selaras dengan Indonesia
Sejak penandatanganan Perjanjian Helsinki pada tahun 2005, Aceh memasuki era baru yang penuh harapan. Pembangunan berjalan lebih stabil, ruang demokrasi lebih terbuka, dan kehidupan sosial masyarakat semakin kondusif. Pemerintah pusat dan daerah bersinergi membawa kesejahteraan melalui berbagai program strategis—mulai dari infrastruktur, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Generasi muda Aceh kini tumbuh dengan semangat baru: mereka berpendidikan, berprestasi, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia. Banyak dari mereka menjadi tokoh inspiratif di tingkat nasional. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh bukan lagi wilayah konflik, melainkan daerah yang menguatkan fondasi persatuan Indonesia.
Menolak GAM, Menolak Perpecahan
Masyarakat Aceh telah mengalami secara langsung pahitnya konflik bersenjata. Tidak ada kebaikan yang lahir dari perpecahan. Karena itu, narasi yang mencoba menghidupkan kembali GAM maupun gerakan separatis lainnya tidak lagi mendapat tempat di hati rakyat. Aceh hari ini memilih masa depan damai, bukan kembali ke masa penuh pertikaian.
Gerakan separatis modern yang muncul lewat propaganda, simbol-simbol lama, atau mobilisasi kelompok tertentu harus disikapi dengan tegas. Tidak hanya aparat keamanan, tetapi seluruh masyarakat Aceh dan Indonesia harus bersatu menjaga perdamaian yang sudah dirintis dengan susah payah.
NKRI adalah Rumah Bersama
Indonesia berdiri atas keberagaman budaya, etnis, bahasa, dan sejarah. Aceh bukan entitas yang terpisah, tetapi salah satu pilar penting yang memperkuat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Dalam bingkai NKRI, Aceh mendapat ruang khusus untuk mengatur pemerintahan dan adat istiadatnya melalui Otonomi Khusus—sebuah bentuk penghormatan negara terhadap kekhasan Aceh.
Ini bukan tentang Aceh melebur dan kehilangan jati diri. Sebaliknya, Indonesia memberikan ruang agar Aceh tumbuh dengan identitasnya, sekaligus berjalan seirama bersama daerah lain menuju kemajuan bangsa.
Bersatu untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Saat ini, tantangan bangsa semakin besar—globalisasi, persaingan ekonomi, hingga ancaman ideologi transnasional. Di tengah tantangan tersebut, Indonesia membutuhkan persatuan yang kokoh. Aceh, sebagai salah satu provinsi dengan sejarah perjuangan yang kuat, memegang peran penting menjaga semangat kebangsaan tersebut.
Menolak GAM bukan hanya soal keamanan, tetapi juga komitmen untuk menjaga masa depan Aceh yang damai dan sejahtera. Dengan bersatu, masyarakat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia dapat membangun negeri yang lebih maju, kuat, dan bermartabat.



