Jakarta,Suarabersama.com – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Jayapura menyebut kebijakan hilirisasi mineral dan meningkatnya impor peralatan tambang menjadi faktor utama yang mempengaruhi neraca perdagangan Papua hingga Mei 2026.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KPPBC TMP C Jayapura Eston Erlangga di Jayapura Jumat, mengatakan neraca perdagangan Papua masih mencatat defisit karena nilai impor jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor pada periode tersebut.
“Defisit perdagangan terjadi karena meningkatnya nilai impor, sementara nilai ekspor mengalami penurunan akibat perubahan pola ekspor konsentrat tembaga,” katanya.
Menurut Eston, peningkatan impor dipicu oleh kebutuhan material dan peralatan berat untuk mendukung perbaikan area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia pasca kejadian longsoran material basah.
“Kondisi tersebut mendorong naiknya aktivitas impor barang modal dan bahan penunjang industri,” ujarnya.
Dia menjelaskan di sisi lain, devisa ekspor menurun karena PT Freeport Indonesia tidak lagi mengekspor konsentrat tembaga secara langsung ke luar negeri. Seluruh produksi konsentrat kini dikirim ke fasilitas smelter di Gresik, Jawa Timur, sebagai bagian dari kebijakan hilirisasi mineral yang diterapkan pemerintah.
“Meski begitu kondisi tersebut menekan kinerja ekspor regional dalam jangka pendek, hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk mineral di dalam negeri sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar pada masa mendatang,” katanya lagi.
Dia menambahkan, selain itu juga komoditas ekspor Papua saat ini didominasi kayu olahan, kayu semi olahan, serta sejumlah produk kebutuhan rumah tangga dari kawasan yang berada di bawah pengawasan Bea Cukai Jayapura.
“Sementara itu, komoditas impor terbesar hingga Mei 2026 masih didominasi minyak dan turunannya, peralatan berat untuk sektor pertambangan, serta mesin industri. Dan menurut kami, struktur impor tersebut menunjukkan sebagian besar barang yang masuk merupakan bahan baku dan barang modal yang mendukung kegiatan produksi,” ujarnya.



