Jakarta, suarabersama.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut justru disebut dapat menjadi momentum memperkuat sektor pertanian nasional dan mengurangi ketergantungan impor pangan.
Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Devi Erna Rachmawati, mengatakan tekanan kurs memang menyebabkan biaya impor pangan, pupuk, dan bahan baku pertanian meningkat. Namun di sisi lain, situasi itu membuka peluang memperkuat produksi dalam negeri.
“Negara dengan sektor pertanian yang kuat justru bisa bangkit saat tekanan kurs terjadi. Ini momentum memperkuat fondasi ekonomi berbasis pangan dan pertanian,” ujarnya.
Menurut Devi, langkah paling mendesak adalah mempercepat swasembada pangan nasional, terutama untuk komoditas strategis seperti beras, jagung, kedelai, dan sumber protein nabati lokal.
Ia menilai kenaikan harga pangan impor akibat melemahnya rupiah berpotensi membebani masyarakat dan industri pangan. Karena itu, pemerintah diminta memperkuat cadangan pangan strategis guna menjaga stabilitas harga.
Selain produksi pangan, Devi juga menekankan pentingnya hilirisasi sektor pertanian agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Ia mencontohkan singkong yang dapat diolah menjadi tepung mocaf, kedelai menjadi protein nabati, hingga kelapa dan sawit yang dikembangkan menjadi produk bioenergi dan oleochemical.
“Ketika dolar tinggi, produk olahan ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Ini peluang besar meningkatkan devisa negara,” katanya.
Pelemahan rupiah juga dinilai menguntungkan eksportir karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Sejumlah komoditas pertanian seperti kopi, kakao, rempah-rempah, sawit, produk organik, dan hortikultura tropis disebut masih memiliki permintaan tinggi di pasar internasional.
Karena itu, pemerintah didorong memperluas akses pasar ekspor, mempercepat sertifikasi global, serta memperkuat branding produk pangan Indonesia di pasar dunia.
Devi juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor dan bahan baku pakan ternak yang membuat biaya produksi petani ikut naik saat dolar menguat.
Sebagai solusi, ia mendorong pengembangan pupuk organik, biofertilizer, pakan lokal fermentasi, hingga pertanian regeneratif yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Di sisi lain, modernisasi pertanian dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas nasional. Penerapan smart farming, drone pertanian, kecerdasan buatan (AI), greenhouse modern, hingga digitalisasi distribusi pangan disebut dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor pertanian tumbuh sekitar 4,97 persen secara tahunan pada kuartal I-2026 dan berkontribusi 12,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Devi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi lumbung pangan Asia apabila momentum pelemahan rupiah dimanfaatkan dengan tepat.
“Strategi terbaik saat dolar tinggi adalah memperkuat produksi pangan nasional, mempercepat hilirisasi, dan membangun ekspor pertanian berbasis teknologi,” ujarnya. (kls)



