Suara Bersama

Pemerintah Percepat Transisi Energi Terbarukan di Tengah Ketidakpastian Global

Jakarta, suarabersama.com – Pemerintah mempercepat langkah transisi energi nasional dari ketergantungan pada bahan bakar fosil menuju energi baru terbarukan (EBT), dengan fokus utama pada pengembangan tenaga surya.

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto kepada Satuan Tugas Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi untuk mempercepat perubahan sistem energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Pemerintah menilai ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz, dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.

Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan percepatan transisi energi menjadi langkah antisipatif untuk menghadapi potensi krisis pasokan minyak global.

Menurut Bahlil, pemerintah akan menghentikan secara bertahap pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil seperti pembangkit diesel. Namun penghentian itu dilakukan bersamaan dengan pembangunan pembangkit energi terbarukan agar pasokan listrik tetap terjaga.

Peluang Industrialisasi Baru

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Eddy Soeparno menilai transisi energi juga dapat menjadi peluang besar bagi industrialisasi nasional.

Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan dari berbagai sumber seperti tenaga surya, air, angin, bioenergi, hingga panas bumi. Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan mineral penting seperti nikel dan tembaga yang menjadi bahan baku utama industri baterai dan kendaraan listrik.

Jika rantai pasok industri tersebut dapat diproduksi di dalam negeri, transisi energi berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Investasi Energi Bersih

Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt hingga 2034. Dari jumlah tersebut, sekitar 42,6 gigawatt direncanakan berasal dari energi terbarukan dan 10,3 gigawatt dari sistem penyimpanan energi baterai.

Program tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 190 miliar dolar AS hingga 2034 dan berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja hijau.

Potensi Energi Surya

Lembaga riset energi Institute for Essential Services Reform menyebut Indonesia memiliki potensi teknis tenaga surya yang sangat besar, mencapai sekitar 7,7 terawatt.

CEO lembaga tersebut, Fabby Tumiwa, menilai Indonesia berpeluang menjadi pemimpin pengembangan energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara jika mampu membangun tata kelola yang transparan, peta jalan yang jelas, serta dukungan investasi yang kuat.

IESR juga mengusulkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai dalam beberapa tahun ke depan. Program ini dinilai dapat mempercepat transformasi energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 2 =