Suara Bersama

Duka di Ngada: Pesan Mendikdasmen untuk Membangun Sekolah yang Responsif

Ngada NTT, suarabersama.com –  Kematian tragis Yohanes Bastian Roja (10) pada awal Februari 2026 menyisakan duka mendalam bagi keluarganya dan mendorong refleksi serius tentang perlindungan anak di Indonesia. Kunjungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 5 Februari 2026 membawa pesan penting: sekolah harus menjadi tempat yang mendengarkan, dan tidak boleh ada lagi anak yang merasa sendiri.

Tragedi yang Mengungkap Kerapuhan Sistem

Kunjungan Menteri Pendidikan, Abdul Mu’ti, bertujuan memberikan dukungan emosional dan santunan kepada keluarga Yohanes. Ia menekankan bahwa kejadian ini harus dimaknai sebagai momentum untuk menilai kembali sistem perlindungan anak di sekolah dan di rumah, serta pentingnya ketahanan keluarga.

“Kasus ini bukan hanya tentang kehilangan satu anak, tetapi pelajaran bagi semua pihak tentang pentingnya perhatian terhadap nilai-nilai agama dan penguatan keluarga,” ujar Prof Mu’ti.

Tantangan Layanan Psikologis di Daerah

Meski bantuan telah disalurkan, tantangan besar tetap ada. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat bahwa pendampingan psikologis di Ngada masih belum optimal, akibat kurangnya tenaga psikolog klinis. Hal ini menimbulkan risiko tinggi bagi kesehatan mental anak-anak dan keluarga yang terpengaruh oleh tragedi tersebut.

Menteri KemenPPPA, Arifah Fauzi, mendorong pemerintah daerah untuk merekrut psikolog yang bisa memberikan dukungan konseling kepada anak-anak dan perempuan. “Pengelolaan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) harus lebih dari sekadar predikat administratif, tetapi menciptakan jaringan aman saat krisis mental berlangsung,” tegasnya.

Kerentanan Tersembunyi Anak Laki-Laki

Kematian Yohanes juga menggarisbawahi masalah kerentanan yang sering terabaikan pada anak laki-laki. Stigma bahwa mereka harus selalu kuat membuat banyak dari mereka merasa tidak aman untuk mengungkapkan kesedihan atau meminta bantuan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 6.000 anak laki-laki mengalami kekerasan sepanjang tahun 2025, sebuah kenyataan yang perlu ditangani dengan serius.

Dukungan Finansial Tidak Cukup

Yohanes adalah penerima Program Indonesia Pintar (PIP), yang menunjukkan adanya dukungan ekonomi. Namun, tragedi ini menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak cukup jika tidak disertai proteksi mental dan emosional. Kemendikdasmen kini berfokus pada pendekatan holistik untuk perlindungan anak yang mencakup lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif.

Tindakan Preventif yang Diperlukan

Kunjungan pemerintah ke Ngada berakhir dengan penyerahan santunan, namun tantangan yang dihadapi tetap besar. Paman almarhum, Dominikus Nou, mengapresiasi perhatian cepat pemerintah, tetapi publik menantikan komitmen untuk membangun sistem perlindungan anak yang proaktif, bukan hanya reaktif setelah tragedi terjadi.

Keberangkatan tim kementerian ke Jakarta menyisakan pekerjaan rumah: bagaimana memastikan setiap anak, baik di kota besar maupun pelosok, memiliki hak untuk merasa aman dan didengarkan. Jika tragedi Yohanes tidak menjadi momentum perubahan kebijakan, maka kehilangan ini akan sia-sia. (kls)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 7 =