Suarabersama.com – Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, menyatakan dukungan penuh terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pengembangan perkebunan kelapa sawit di Papua sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional.
“Saya sangat setuju dan mendukung arahan Bapak Presiden terkait perkebunan sawit di Papua untuk mendukung ketahanan energi dan ketahanan pangan,” kata Dr. Gulat kepada sawitsetara.co, Jumat (19/12/20225).
Menurut Dr. Gulat, kebijakan yang digagas Presiden tersebut merupakan langkah strategis untuk menciptakan kesetaraan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan pangan di Papua. Saat ini, harga BBM maupun kebutuhan pokok di wilayah tersebut masih jauh lebih tinggi, bahkan bisa mencapai dua hingga empat kali lipat dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
“Di Provinsi lain naik saja Rp1000 per liter BBM demonya berseri seri. Lah di Papua harga jauh lebih mahal, saudara kita yang di sana diam saja. Demikian juga dengan minyak goreng,” di sana juga lebih mahal,” kata Dr. Gulat.
Ia menegaskan, dengan mendekatkan sumber bahan baku sawit melalui pembangunan perkebunan serta penguatan industri hilir di Papua, biaya produksi dan distribusi dapat ditekan secara signifikan. Dengan demikian, masyarakat Papua diharapkan dapat menikmati harga BBM dan bahan pangan yang setara dengan daerah lain di Tanah Air.
“Multiplier effect perkebunan dan industri sawit juga akan langsung dirasakan masyarakat Papua. Para pengamat dan analis jangan hanya bisa berteriak tolak dengan alasan frame lingkungan, tapi lihat dan kajilah dari segi kebermanfaatan dari dimensi ekonomi dan sosial,” tegas Dr. Gulat.
Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Provinsi Papua, Pdt. Albert Yoku, S.Th, saat dihubungi sawitsetara.co, menekankan pentingnya percepatan pembangunan di Papua melalui berbagai pendekatan strategis, khususnya untuk mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan pangan.
“Saya sudah sangat sering mendengar teriakan kawan-kawan penggiat lingkungan. Tapi apa yang sudah mereka perbuat untuk Papua?, gak ada, hanya berteriak saja, sementara mereka mendapat suntikan dana dari luar negeri sebagai donornya, disaat kami masyarakat Papua kesulitan mendapatkan BBM dan kebutuhan pangan lainnya,” kata Albert.
“Saya sangat mendukung apa yang disampaikan Presiden Prabowo dan masyarakat Papua berhak akan kesetaraan harga BBM dan bahan pokok pangan lainnya dan perkebunan sawit adalah solusinya,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Dr. Gulat menjelaskan bahwa konsep keberlanjutan tidak dapat dipahami secara parsial. Menurutnya, keberlanjutan memiliki tiga pilar utama, yakni lingkungan, ekonomi, dan sosial, yang harus berjalan seimbang dan saling melengkapi.
“Intinya, ketiga dimensi ini setara tidak boleh saling meniadakan,” ujar Gulat Doktor Lingkungan lebih rinci tentang roh keberlanjutan.
Ia juga meyakini bahwa pemerintah akan bertindak cermat dan bijaksana dalam menentukan lokasi pengembangan perkebunan sawit di Papua, terutama dengan memanfaatkan lahan bekas izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH).
“Untuk pengembangan ini kami juga melihat bahwa Pemerintah pasti bijak memilih lokasi pembangunan perkebunan sawit untuk ketahanan energi dan pangan di Papua, terkhusus memanfaatkan bekas perizinan HTI dan HPH,” lanjut Dr Gulat.
“Negara kita jangan mau di frame tidak menjaga lingkungan oleh negara lain melalui kaki tangannya mereka yang di dalam negeri, ini sangat menyesatkan isu-isu yang di desain memojokkan perkebunan sawit. Itu jelas persaingan dagang dan politik dagang, itu cara jualan lama dan sudah basi meski didesain dengan new model,” kata Dr. Gulat.
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong agar Papua juga menjadi bagian dari pengembangan kelapa sawit nasional guna mendukung kemandirian energi. Ia berharap produksi sawit dari Papua ke depan dapat dimanfaatkan sebagai sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk BBM.
“Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit,” kata Kepala Negara.
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam rapat percepatan pembangunan Papua yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya optimalisasi potensi sumber daya alam Papua untuk memperkuat kemandirian energi dan ketahanan pangan nasional. (*)



