Jakarta, Suarabersama.com – Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menilai meningkatnya tensi geopolitik global antara Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi turut memengaruhi arus investasi internasional, termasuk ke Indonesia.
Rosan menjelaskan bahwa konflik maupun persoalan internal di sejumlah negara dapat mengalihkan fokus pemerintah serta pelaku usaha di negara-negara tersebut. Kondisi ini pada akhirnya berisiko menurunkan aktivitas investasi secara global.
“Karena contohnya kan negara-negara itu kalau disibukkan dengan masalah internalnya ya mungkin masalah investasinya akan berkurang,” kata Rosan saat ditemui di kantornya, Jakarta, dikutip Jumat (16/1/2026).
Menurut Rosan, para investor pada dasarnya telah memahami adanya risiko dalam setiap keputusan investasi. Namun demikian, faktor yang paling dihindari oleh investor adalah tingginya ketidakpastian, karena sulit diukur dan dimasukkan ke dalam skema mitigasi risiko.
Atas dasar itu, Rosan menegaskan pemerintah terus memperkuat berbagai langkah mitigasi guna memastikan iklim investasi nasional tetap kondusif sepanjang tahun ini.
Ia juga menekankan bahwa dinamika geopolitik global merupakan faktor eksternal yang berada di luar kendali Indonesia. Meski demikian, pemerintah akan tetap memfokuskan perhatian pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan, terutama melalui perbaikan regulasi dan kebijakan untuk menciptakan lingkungan investasi yang semakin ramah.
“Saya melihatnya optimis investasi kita ini akan terus berjalan baik, meningkat baik, dan sesuai dengan target-targetnya gitu. Memang harus kerja keras,” tegasnya.
Kerja keras tersebut, lanjut Rosan, menjadi keharusan mengingat Indonesia juga bersaing dengan negara-negara tetangga dalam menarik minat investor global. Ia mencontohkan persaingan Indonesia dengan Malaysia dan Thailand dalam menggaet investasi di sektor pusat data atau data center.
Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki berbagai keunggulan kompetitif, mulai dari harga listrik dan infrastruktur digital yang relatif kompetitif, bonus demografi, hingga stabilitas nasional yang tetap terjaga.
“Jadi ya itu semua yang [perlu kita jaga], kita tidak boleh terlena tapi terus kita tingkatkan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, melalui operasi militernya, Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya di Caracas. Penangkapan yang diperintahkan Presiden Donald Trump tersebut didasari dakwaan narko-terorisme dan perdagangan narkoba, sebelum Maduro diterbangkan ke New York untuk menghadapi persidangan federal.



