TABANAN, Suarabersama — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus digencarkan pemerintah kini mulai menunjukkan hasil yang lebih luas di Bali. Selain fokus utama pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat — terutama anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita — program ini juga dinilai menciptakan dampak positif terhadap perekonomian lokal di sejumlah daerah di Pulau Dewata.
Inisiatif pemerataan gizi ini melibatkan penguatan edukasi masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat sejak dini serta pemberdayaan usaha ekonomi lokal, termasuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sektor pangan yang memasok bahan baku untuk dapur MBG. Pemberdayaan tersebut menciptakan jaringan produksi yang melibatkan petani lokal, pedagang sayur, pengolah makanan, serta tenaga kerja di dapur penyedia makanan bergizi, sehingga turut memberi aliran ekonomi lebih luas di komunitas setempat.
Pelaksana program di Bali menyampaikan bahwa penyediaan makanan bergizi tidak hanya mendukung kualitas kesehatan warga, tetapi juga menjadi peluang bagi pelaku ekonomi lokal. Permintaan bahan pangan dari program ini membantu menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat pemasaran produk lokal, dan memperluas akses pasar bagi petani atau produsen kecil. Dampak ini tak hanya dirasakan oleh toko atau usaha pangan besar, tetapi juga oleh pelaku sektor informal yang sebelumnya kesulitan bersaing dengan produk luar daerah.
Warga dan pelaku UMKM di Bali mengakui bahwa keterlibatan mereka dalam program MBG memberi tambahan pendapatan sekaligus peluang untuk meningkatkan keterampilan produksi pangan yang berkualitas tinggi. Dengan keterlibatan langsung dalam penyediaan dan pengelolaan makanan bergizi, mereka juga belajar menjalankan standar higienis dan nutrisi yang baik — pengalaman yang membantu usaha mereka berkembang lebih berkelanjutan.
Sejumlah pihak melihat bahwa kombinasi antara program sosial dan pemberdayaan ekonomi ini menjadi model pembangunan berkelanjutan yang efektif: tidak hanya membantu menekan angka kurang gizi atau stunting, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi di tingkat komunitas. Model serupa pun diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk daerah lain yang menghadapi tantangan gizi dan perekonomian lokal secara bersamaan.



