Jakarta, suarabersama.com – Pemerintah berencana memperluas program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok lanjut usia pada 2026. Namun, sejumlah pakar menilai pelaksanaannya harus disertai petunjuk teknis yang jelas dan dilakukan secara hati-hati karena kebutuhan gizi lansia lebih kompleks dibandingkan kelompok penerima lainnya.
Pendiri Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) Diah Satyani Saminarsih menilai kesalahan tata kelola MBG pada lansia berpotensi meningkatkan risiko kesehatan. Menurutnya, kondisi fisik lansia yang rentan dapat memperparah dampak jika terjadi kesalahan menu atau pengolahan makanan. “Risikonya bukan hanya keracunan, tapi juga komplikasi penyakit yang gejalanya tidak selalu langsung terlihat,” ujarnya.
Senada, Associate Professor Kesehatan Publik Monash University Indonesia, Grace Wangge, menekankan pentingnya penyesuaian makanan bagi lansia. Ia menyebut aspek tekstur, kandungan gizi, kebersihan makanan, peran pengasuh, hingga sistem pemantauan menjadi faktor kunci. “Setiap lansia punya kondisi kesehatan yang berbeda, sehingga tidak bisa disamaratakan,” kata Grace.
Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan pemerintah menargetkan MBG bagi lebih dari 100 ribu lansia berusia di atas 75 tahun serta sekitar 36 ribu penyandang disabilitas pada 2026. Program ini menelan anggaran sekitar Rp1,18 triliun per tahun, dengan nilai satu porsi makanan sebesar Rp15.000 yang diberikan dua kali sehari.
MBG lansia akan disalurkan melalui kelompok masyarakat di sekitar penerima manfaat dan dilengkapi pendamping atau caregiver. Program ini merupakan pengembangan dari Program Permakanan yang sebelumnya dijalankan Kementerian Sosial. Di daerah, sejumlah pemerintah daerah mengaku masih menunggu petunjuk teknis resmi. Dinas Sosial Kota Solo, misalnya, menyatakan belum menerima kejelasan mengenai mekanisme pelaksanaan MBG lansia maupun kaitannya dengan program yang sudah berjalan.
Meski demikian, rencana MBG untuk lansia mendapat sambutan positif dari masyarakat. Welas (96), warga Solo, mengaku bersyukur dengan rencana tersebut meski berharap program benar-benar bisa menjangkau lansia yang belum terdaftar sebagai penerima bantuan. Pemerintah menegaskan saat ini masih mematangkan konsep dan pelaksanaan MBG lansia agar program berjalan tepat sasaran dan aman bagi penerima manfaat. (kls)



