Jakarta, Suarabersama.com – Komika Pandji Pragiwaksono menjadi perbincangan luas setelah materi stand-up comedy yang dibawakannya menyinggung fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Candaan tersebut memicu kontroversi dan menuai respons dari berbagai kalangan.
Dalam pertunjukannya, Pandji menyoroti kondisi mata Gibran yang menurutnya terlihat mengantuk di berbagai kesempatan. Mantan Wali Kota Solo itu bahkan dijadikan bahan candaan di atas panggung.
“Atau wakil presidennya. ‘Gibran ngantuk ya’,” ucap Pandji disambut gelak tawa para penonton.
“Ya kaya orang ngantuk dia ya. Menurut keyakinan saya,” timpalnya.
Ucapan tersebut langsung memantik polemik di ruang publik. Kali ini, kritik datang dari pakar pendidikan Ina Liem yang menilai ada unsur penghinaan fisik dalam materi komedi tersebut.
Menurut Ina, candaan yang mengarah pada body shaming berpotensi melukai banyak pihak dan tidak seharusnya dinormalisasi. Ia mengaku prihatin dengan tren komedi yang kerap merendahkan fisik orang lain demi tawa.
Ia menilai humor semacam itu semakin sering dijadikan bahan lelucon publik, padahal dampaknya bisa sangat serius, terutama bagi mereka yang menjadi sasaran.
“Coba deh berhenti sejenak, bayangkan wajah anak-anak kalian sendiri, orang tua kalian dipakai sebagai bahan candaan publik, masih bisa ketawa enggak? Pantas enggak?” kata Ina Liem seperti dikutip dari Instagram Ina Liem pada Senin (5/1/2025).
Ina menegaskan bahwa humor tetap harus memiliki batas yang jelas. Menurutnya, batas tersebut berkaitan langsung dengan nilai moral dan kemanusiaan. Ia menyebut bahwa menghina fisik seseorang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Menghina tampang manusia itu bukan masalah selera humor. itu menghina karya tuhan, yang kalian tertawakan itu karya ciptaan tuhan. Bawaan yang tidak bisa diubah,” katanya.
Ia juga menyoroti peran besar figur publik dalam membentuk cara pandang masyarakat. Menurut Ina, ucapan seorang public figure sangat mudah dianggap wajar dan berpotensi ditiru oleh publik luas.
Dalam konteks tersebut, Ina turut menyinggung pandangan dr Tompi yang juga menyampaikan kritik terhadap materi Pandji.
“Dr Tompi mungkin bisa (mengubah fisik). Tapi justru beliau sendiri ikut menyampaikan keprihatinan dan menegaskan itu bukan kritik yang cerdas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa stand-up comedy sebagai bentuk karya seni seharusnya tetap menjunjung tinggi tanggung jawab moral dalam penyampaian pesan.
Sejalan dengan Ina Liem, dr Tompi juga menyampaikan pandangan kritisnya. Salah satu bit komedi Pandji yang tayang di Netflix dan menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan.
Menurutnya, kritik, satire, dan humor tetap sah disampaikan di ruang publik. Namun, merendahkan kondisi tubuh seseorang justru mencerminkan kemiskinan gagasan.
“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir. Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya,” katanya. (hni)



