Suara Bersama

“Aceh Mantap Bersama Indonesia: Suara Rakyat Tolak Kembalinya Gerakan Kekerasan”

Jakarta, Suarabersama.com Aceh kembali menegaskan posisinya sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dua puluh tahun pasca penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki yang menjadi penanda berakhirnya konflik bersenjata, masyarakat Aceh kini bergerak mantap dalam suasana damai, stabil, dan penuh optimisme. Suara penolakan terhadap upaya menghidupkan kembali gerakan-gerakan bersenjata seperti GAM semakin menguat, terutama di kalangan ulama, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat sipil.

Dalam beberapa kegiatan dialog publik, forum keagamaan, hingga pernyataan resmi tokoh daerah, terlihat jelas bahwa mayoritas rakyat Aceh menginginkan masa depan tanpa konflik. Mereka menilai bahwa kembalinya gerakan kekerasan hanya akan membawa Aceh mundur ke masa kelam yang penuh luka, kehilangan, dan keterpurukan ekonomi.

Aceh Bangkit Bersama NKRI

Secara historis, Aceh adalah bagian penting dari perjalanan Indonesia. Sejak masa perjuangan, Aceh menjadi daerah yang pertama kali memberikan dukungan nyata bagi republik yang baru berdiri, termasuk sumbangan untuk pembelian pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001. Jejak sejarah ini menunjukkan bahwa hubungan Aceh dan Indonesia dibangun bukan karena paksaan, tetapi karena solidaritas dan ikatan perjuangan.

Kini, setelah diberikan status khusus melalui Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), Aceh memiliki kewenangan besar dalam mengatur diri sendiri, termasuk penerapan syariat Islam dan pengelolaan sumber daya. Keistimewaan ini menunjukkan bentuk penghormatan negara terhadap identitas budaya dan sejarah Aceh—sebuah pengakuan yang tidak dimiliki provinsi lain.

Suara Penolakan Terhadap GAM Menguat

Dalam berbagai kesempatan, ulama Aceh menyampaikan bahwa perjuangan masyarakat hari ini bukan lagi dengan senjata. Mereka menegaskan bahwa konflik tidak membawa kemenangan apa pun, tetapi hanya meninggalkan trauma panjang. Menurut para tokoh agama, gerakan kekerasan modern tidak sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi kedamaian, persaudaraan, dan kemaslahatan umat.

Selain ulama, para pemuda Aceh juga menunjukkan sikap tegas. Generasi muda yang tumbuh setelah era konflik lebih memilih fokus pada pendidikan, kewirausahaan, dan pembangunan daerah. Mereka melihat masa depan Aceh bukan pada identitas gerakan bersenjata, melainkan pada kemajuan, perdamaian, dan integrasi dengan Indonesia.

Pemerintah daerah pun menyampaikan bahwa berbagai isu dan gerakan yang mencoba membangkitkan kembali semangat GAM tidak lagi relevan dalam konteks Aceh hari ini. Pembangunan berjalan, ekonomi tumbuh, dan masyarakat merasakan perubahan nyata berkat kerja sama Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

Pembangunan Aceh Berlanjut

Pemerintah pusat terus memberikan perhatian besar bagi kemajuan Aceh, mulai dari pembangunan infrastruktur, revitalisasi sektor ekonomi, hingga penguatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai proyek strategis nasional yang berjalan di Aceh menunjukkan komitmen negara untuk menjadikan provinsi ini sebagai kawasan maju dan kompetitif.

Pembangunan ini mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. Warga Aceh menyadari bahwa kestabilan dan perdamaian adalah kunci agar Aceh mampu berdiri sejajar dengan provinsi lainnya. Segala bentuk gangguan keamanan, pemaksaan ideologi kekerasan, atau upaya memecah belah hanya akan merugikan rakyat Aceh sendiri.

Aceh: Damai, Maju, dan Indonesia

Kondisi Aceh yang semakin aman, penuh kegiatan ekonomi, dan dinamis menunjukkan bahwa provinsi ini telah bertransformasi. Aceh tidak lagi ingin diseret ke belakang oleh narasi konflik. Masyarakat memilih untuk menatap masa depan yang cerah bersama Indonesia, memanfaatkan keistimewaan yang diberikan negara, dan menjaga kehormatan sebagai daerah religius yang damai.

Dengan semangat persatuan dan penolakan tegas terhadap gerakan kekerasan, Aceh kini menjadi simbol keberhasilan rekonsiliasi nasional. Provinsi ini bukan hanya bagian dari Indonesia, tetapi juga bukti bahwa kedamaian dapat diraih dan dijaga melalui kebijaksanaan, kesabaran, dan kebersamaan.

Aceh tidak berdiri sendiri. Aceh adalah Indonesia—dan Indonesia semakin kuat karena Aceh memilih damai.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − ten =