Jakarta, Suarabersama.com – Fokus perang dagang Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, semakin mengerucut. Alih-alih membuka front perang dengan banyak negara, Trump kini berfokus pada satu teritori yang sudah dikenal: AS melawan China.
Mengutip CNN International, adu tarif ini diawali oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberikan tarif resiprokal 54% terhadap China. Selama seminggu, tarif Trump atas impor China telah melonjak dari 54% menjadi 104% dan 125% hingga kemudian dikonfirmasi oleh Gedung putih bahwa tarif yang berlaku kini 145%.
Trump menyebutkan bahwa kenaikan tarif ini merupakan akibat dari sinyal Beijing yang bersiap membalas dengan tarif 84% untuk barang-barang ekspor AS. Ia merasa tindakan ini “kurang menghormati.”
Bagi Trump, perang dagang ini bukan sekadar balasan. Menurutnya, ini adalah urusan yang belum selesai dari masa kepresidenannya yang pertama. “Kita belum sempat melakukan hal yang benar, dan itulah yang kita lakukan sekarang sekarang,” katanya.
Trump tidak main-main dengan tujuannya. Dia berupaya mengguncang sistem perdagangan global yang selama ini menjadikan China sebagai pusat manufaktur dunia dan merubah pandangan bahwa ‘semakin banyak perdagangan, semakin baik,’ yang dulu ia anut.
Untuk memahami motif Trump, kita harus kembali ke tahun 2012. Saat itu, banyak pemimpin bisnis dan ekonom global berpikir bahwa meningkatkan perdagangan dengan China adalah keputusan yang sudah pasti akan menguntungkan.
Namun, prediksi bahwa China akan menjadi lebih terbuka dalam hal politik dan konsumsi tidak terwujud. Sebaliknya, China tetap mempertahankan kekuasaan Partai Komunis dan berusaha semakin dominan di pasar global.
Di sisi lain, pada 2015, China menerbitkan kebijakan “Made in China 2025” yang menargetkan mereka menjadi pemimpin dunia dalam beberapa sektor manufaktur. Setahun kemudian, Trump, yang baru mencalonkan diri sebagai presiden, mulai menyuarakan kritik terhadap kebangkitan China yang ia klaim merugikan ekonomi AS.
Perang dagang yang dimulai Trump pada masa pemerintahannya merusak konsensus perdagangan yang telah ada. Bahkan Presiden Joe Biden yang menggantikan Trump pun tetap mempertahankan sebagian besar tarif terhadap China. Meskipun ini memberikan dampak negatif bagi China, namun model ekonomi mereka tetap tidak banyak berubah.
Saat ini, China memproduksi 60% mobil listrik di dunia dan 80% baterai yang menggerakkan mobil-mobil tersebut, sebagian besar dari jenama lokal. Kini, Trump kembali dengan kebijakan tarif yang lebih tinggi, yang berpotensi mengguncang sistem perdagangan dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada dua pertanyaan besar. Pertama, apakah China akan menerima tawaran untuk negosiasi? Kedua, jika China menerima negosiasi, apakah mereka bersedia membuat konsesi besar seperti yang diinginkan AS, termasuk merombak model ekonomi mereka yang berorientasi pada ekspor?
Jawabannya, kita masih berada di wilayah yang sangat tidak pasti. Banyak yang belum tahu bagaimana Beijing akan bereaksi.
Namun, ada alasan untuk waspada. China melihat kekuatan ekonominya yang berbasis pada ekspor dan perlindungan pasar domestik sebagai bagian dari kebangkitan nasional dan supremasi sistem satu partai. Pengendalian ketat terhadap informasi kemungkinan akan tetap menjadi penghalang besar bagi perusahaan teknologi AS yang ingin masuk ke pasar China.
Lalu, ada pertanyaan berikutnya untuk AS: Apakah AS masih ingin perdagangan bebas? Trump sering menganggap tarif sebagai alat yang bermanfaat, meskipun tanpa tujuan yang jelas.
Trump sering mengatakan bahwa tarif adalah langkah proteksionis yang dapat merangsang investasi domestik, mendorong perusahaan AS untuk memindahkan rantai pasokan kembali ke dalam negeri, dan meningkatkan pendapatan pajak. Jika Beijing memahami bahwa tujuan AS adalah proteksionisme semacam itu, mungkin mereka merasa tidak ada yang perlu dinegosiasikan.
Jika ini yang terjadi, kedua negara ini bisa terjebak dalam perang ekonomi yang hanya menguntungkan satu pihak, sementara tatanan perdagangan dunia yang lama bisa hancur, menciptakan masa depan yang penuh ketidakpastian dan berpotensi berbahaya.



