Acara Silaturrahim KH. Taj Yasin Maimoen bersama Keluarga Besar Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Purworejo dan Pelantikan GMPI Kabupaten Purworejo. Selasa (10/4/2018).
Acara Silaturrahim KH. Taj Yasin Maimoen bersama Keluarga Besar Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Purworejo dan Pelantikan GMPI Kabupaten Purworejo. Selasa (10/4/2018).

Suarabersama.com, Semarang – Taj Yasin menyayangkan tersebarnya fitnah terkait puisi karya KH. Musthofa Bisri berjudul ‘Kau Ini Bagaimana Atau Aku Yang Harus Bagaimana’ yang dibacakan Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu.

Politisi Partai Persatuan Pebangunan (PPP) ini juga menyampaikan kemarahannya kepada penyebar fitnah, pasalnya yang difitnah adalah sosok Kiai Kharismatik yang sangat dihormati masyarakat, KH. Musthofa Bisri, atau yang akrab disapa Gus Mus.

“Saya marah, karena Kiai kita semua dikatai ‘dungu’ oleh orang-orang yang memfitnah kami (Ganjar-Yasin) anti adzan, mereka memfitnah kami melalui puisi yang dibacakan mas Ganjar, berarti memfitnah Gus Mus, karena puisi yang kami bacakan adalah puisi karangan Kiai kita semua,” tuturnya.

Pernyataan ini disampaikan calon Wakil Gubernur Jawa Tengah dari nomor urut 1, Taj Yasin, dalam acara Silaturrahim KH. Taj Yasin Maimoen bersama Keluarga Besar Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Purworejo dan Pelantikan GMPI Kabupaten Purworejo. Selasa (10/4/2018).

Taj Yasin juga mengajak semua elemen untuk tidak menggunakan isu SARA untuk kampanye, menurutnya, memikirkan kepentingan masyarakat lebih penting dibandingkan menyebar fitnah untuk kepentingan Pilkada.

“Lebih baik kita memikirkan masyarakat, memikirkan nasib pesantren dan madrasah, memikirkan pengembangan ekonomi masyarakat Jawa Tengah, bukan menyudutkan pihak lain melalui fitnah dengan isu SARA,” lanjutnya dalam sesi sambutan putra KH. Maimoen Zubair itu.

Di akhir sambutannya, Taj Yasin mengajak seluruh pengurus, kader, dan simpatisan PPP yang turut hadir dalam acara silaturrahim itu untuk menghormati para Kiai.

“Keluarga besar PPP jangan sampai terpengaruh dengan isu SARA, kita harus kokoh tetap memperjuangkan kepentingan masyarakat, dengan cara yang santun dan bermartabat,” pungkas suami Nawal Nur Arafah ini.