Foto: Arwani Thomafi dalam acara Konsolidasi Pemenangan Ganjar-Yasin di Solo.
Foto: Arwani Thomafi dalam acara Konsolidasi Pemenangan Ganjar-Yasin di Solo.

Suarabersama.com, Semarang – Kami melihat ada upaya secara sistemik untuk menyeret ormas Nahdlatul Ulama (NU) dalam politik praktis berjangka pendek. Mobilisasi kiai-kiai NU dan struktur NU untuk kepentingan politik jangka pendek jelas akan merugikan kelembagaan NU.

Pernyatan ini disampaikan Arwani Thomafi melalui rilis resminya, politisi Partai Persatuan Pembangunan ini juga mengajak pengurus dan warga NU untuk mengingat sejarah pada 1999, 2004, 2009, dan 2014.

“Mestinya para pengurus NU dapat mengambil pelajaran berharga saat pemilu 1999, 2004, 2009 dan 2014 soal tarikan NU dalam wilayah politik praktis hanyalah akan merugikan jamaah dan jamiyyah NU,” lanjut Arwani Thomafi yang juga sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP itu. Selasa (3/4/2018).

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Aang ini menyeru kepada kader NU agar ikut serta mengambil peran dalam menentukan nasib Indonesia ke depan, dengan tetap mengingat khittoh NU yang tidak bergerak dalam politik praktis, namun semangat NU untuk membangun bangsa harus tetap dipegang pengurus dan kader NU.

“Kader NU harus mengambil peran strategis dalam pengambilan keputusan penting di republik ini tidak berarti menjadikan NU sebagai kekuatan politik praktis berjangka pendek. NU semestinya ditempatkan sebagai spirit, panduan dan kompas bagi para politisi yang berlatarbelakang NU dalam setiap pengambilan keputusan publik,” tulisnya.

Rilis ini dibuat Arwani Thomafi dalam rangka refleksi peringatan se-abad organisasi masyarakat terbesar Nahdlatul Ulama.