Muhammad Arwani Thomafi
Muhammad Arwani Thomafi

Suarabersama.com, Semarang – Arwani Thomafi, Anggota Komisi I DPR RI, geram atas tersebarnya gambar Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), sedang mengemis kepada Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, belakang diketahui gambar tersebut dibuat oleh komikus Onan Hiroshi. Ia mengatakan, Komikus asal Jepang tersebut membuat gambar tanpa pemahaman diplomasi negara.

“Gambar karya Onan Hiroshi tidak tepat. Ada yang perlu dipahami, diplomasi dua negara selalu memakai prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan satu dengan lainnya. Jadi dalam proses diplomasi tidak ada pihak sebagai pengemis dan pihak sebagai pemberi, keduanya harus saling menguntungkan. Hiroshi, sebelum membuat gambar tersebut mestinya paham soal diplomasi antar negara yang lazim terjadi,” kata Arwani dalam keterangan persnya. Senin (26/2/2018).

Selain itu, yang menurut Arwani Thomafi kurang tepat adalah Hiroshi membuat gambar LGBT yang disamakan dengan demo anti kulit hitam yang bernuansa rasis di Amerika Serikat. Lebih lanjut Arwani berpendapat, Onan Hiroshi tak melakukan riset mendalam soal penolakan LGBT di Indonesia.

“Kualitas seni dan jurnalistik yang dibuat komikus Jepang tersebut sangat rendah, karena tidak melakukan riset. Perlu dipahami, sikap anti LGBT bukanlah sikap rasis. Namun  sikap ini didasari oleh kaedah agama, kaidah kesusilaan dan kaedah hukum,” ujarnya.

Arwani juga mengatakan, kebebasan dalam menyampaikan pendapat sudah diatur dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) sebagaimana tertuang di Pasal 19-20.

“Namun, di deklarasi yang sama yakni di Pasal 29 ayat 2  DUHAM, kebebasan seseorang dibatasi dengan penghormatan terhadap hak-hak pihak lainnya,” jelasnya.

Politisi PPP itu juga menghimbau, agar Hiroshi meminta maaf kepada bangsa Indonesia, karena Presiden adalah simbol negara yang wajib hukumnya dihormati siapapun.

“Atas nama DUHAM tersebut, baiknya Hiroshi meminta maaf atas karya seni jurnalistiknya yang fakir riset dan data itu, mengingat, Presiden adalah simbol negara Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, Ia mendorong pemerintah untuk segera melayangkan surat protes terhadap Onan Hiroshi atas karyanya yang dinilai telah merendahkan martabat Indonesia.

“Kami mendorong Pemerintah RI untuk melakukan nota protes atas karikatur Horashi yang telah membuat pembingkaian (framing) yang offside yakni berupa aksi penolakan LGBT dianggap sebagai aksi rasis termasuk kebijakan Presiden Jokowi di tanah air,” pungkasnya.