Pemimpin Milenial dan Sarung Sebagai Identitas
Pemimpin Milenial dan Sarung Sebagai Identitas

Geertz dalam karya mutakhirnya berjudul ‘The Religion of Java’ mengklasifikasi Islam di Indonesia ke dalam tiga klasifikasi; priyayi, abangan, dan kaum sarungan. Walaupun ada kritikan atas klasifikasikan oleh Geertz, namun bisa dilihat bahwa ada latarbelakang Geertz dalam proses klasifikasi yang cukup melekat pada dirinya.

Mungkin saja Geertz melihat sarung sebagai suatu identitas yang hampir di semua pesantren-khususnya pesantren salaf-selalu dikenakan oleh santri, itulah yang kemudian menjadi kesimpulan Geertz bahwa santri termasuk dalam klasifikasi ‘kaum sarungan’.

Akhir-akhir ini media sering memberitakan pemimpin yang dalam kunjungannya memakai sarung, latar belakang santri bersarung tersebut bermacam-macam, ada santri, pengusaha, dan birokrat. Bersarung memiliki kesan santai dan santun.

Selain santai dan santun, sarung disimbolkan sebagai kesederhanaan bagi seorang pemimpin yang akan melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dengan berorientasi pada kepentingan rakyat. Selain itu, sarung juga sebagai simbol rendah hati dan kesantunan. Sebagaimana akhlak seorang santri yang selalu mengedepankan kesederhanaan, kesantunan, dan religius.

Diakui atau tidak, saat ini sarung sebagai identitas politik banyak digunakan oleh calon kepala daerah bahkan seorang presiden di Indonesia sekalipun. Selain sebagai simbol, mayoritas di Indonesia adalah muslim, hampir bisa dipastikan santri di Indonesia tidak sedikit, apalagi di pulau Jawa.

Karena sarung banyak digunakan sebagai identitas politik di Indonesia, maka berbahagialah bagi yang memang benar-benar santri dan pernah “nyantri” yang akan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Tanpa harus mendadak bersarung untuk mendapatkan suara dari kaum sarungan, santri sudah terbiasa mengenakan sarung, dan image itu justru lebih natural dan tidak terkesan dipaksakan.

Karena pada hakikatnya yang sebagai identitas kesederhanaan dan kesantunan bukanlah sarung sebagai pakaian ‘lahiriyah’, namun sarung sebagai akhlak ‘batiniyah’ yang timbul dari pembiasaan hidup sederhana dan kerendahan hati yang dijalani tidak dalam waktu yang singkat. Karena sarung sebagai pakaian dan sarung sebagai akhlak akan terlihat sangat berbeda.