Sumber foto: nu.or.id

Suarabersama.com – Kaum santri di Indonesia telah menjadi warna tersendiri keberagaman bangsa ini. Mereka adalah orang-orang yang mendalami ilmu agama (Islam) secara sungguh-sungguh, dan mereka tersebar di banyak pondok pesantren di Indonesia. Santri memang selalu Identik dengan gambaran orang-orang yang menjaga pola tradisionalitas, tidak terlalu tergiur dalam dunia modern yang belajar dan tinggal bertahun-tahun di pondok pesantren.

Selepas mereka nyantri harus siap untuk menghadapi segala urusan kehidupan dalam sosial masyarakat. Dengan berbekal kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang diperolah selama nyantri, santri akan siap untuk menghadapinya. Dalam era global saat ini, peran kaum santri di tengah masyarakat di tuntuk lebih besar untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dalam sektor apapun, dari persoalan kehidupan di desa, hingga hiruk-pikuk perpolitikan yang ada.

Dalam hal politik, kaum santri selama juga belum terlalu sukses untuk turut andil dalam politik. Beberapa nama besar yang berlatar belakang santri pernah ikut mewarnai dalam proses pesta demokrasi Indonesia, namun tak satu dari mereka mampu menyngkirkan lawan-lawannya. Sebut saja Amin Rais, Hamzah Haz, KH Hasyim Muzadi (alm), dan KH Sholhudin Wahid. Meskipun saat mereka bersaing selalu di dukung oleh partai-partai Islam di belakangnya, namun tetap belum mampu untuk meraup suara terbanyak. Hanya  KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Presiden RI ke-4 yang secara latar belakang mewakili golongan santri yang sukses menduduki kursi presiden.

Pada pemilu 1999, dari 11 partai Islam yang ikut berpatisipasi, suara keseluruhan partai hanya sebesar 37 persen. Sebenarnya lemahnya suara para tokoh dan partai Islam pasca reformasi bukanlah hal baru. Jauh sebelum dekade 60 an, partai-partai Islam juga berjuang dengan keras untuk mampu mememikat hati para pemilih. Terhitung hanya pada tahun 1955 kala itu partai Islam mampu meraup suara hingga 43 persen.

Merosotnya pamor partai Islam pasca tahun 2000 an masih di tambah lagi lemahnya konsolidasi internal partai yang rapuh. Hal ini terbukti dengan kemelut iternal yang berkepanjangan. Ketika Orde Baru berkuasa, politik Islam juga di penuhi konflik, terutama ketika penguasa mengambil kebijakan penyederhanaan partai melalui fusi. PPP  sebagai metamorphose partai Islam pada masa Orde Baru justru mengulang kembali konflik yang pernah terjadi kala Masyumi sebagai wadah tunggal politik Islam, terjadi konflik di dalamnya antara golongan “Islam Tradisionalis” dengan “Islan Modernis”.

Serentetan problem besar yang di alami oleh sebagian besar kekuatan politik Islam tersebut nampaknya, mejadi faktor penyebab mengapa kekuatan Islam tidak pernah meraih kemenangan di panggung politk Indonesia.

Santri Tetap Menjadi Harapan

Masyarakat Indonesia yang sudah di perlihatkan kenyataan yang demkian yang selama ini telah membesarkan mereka dalam pengalaman dunia politik yang sangat beragam ini. Bahwa kekuatan politik santri kini tidak hanya ada dalam partai–partai yang secara legal formal menyebut diri sebagai partai Islam. Kini kita harus lebih jeli lagi, bahwa sudah telah terjadi penyebaran kekuatan politik yang luas di kalangan santri.

Dengan begitu, upaya memberdayakan santri untuk kembali memberikan andil besar dalam partai Islam harus tetap di lakukan. Bukan tidak mungkin, kekuatan besar kaum santri akan kembali mampu untuk mendorong kembali partai-partai Islam menjadi pelopor perpolitikan Indonesia. Dengan santri yang telah ada di setiap hati masyarakat Indonesua yang akan mampu berperan dalam segala hal. (001)

 

*Disarikan dari buku Revitalisasi Ideologi, Mendifinisikan Kembali Kaum Santri, karya, Arief Mudatsir Mandan, Ketua PHP DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP).