Sumber foto: aktual.com

Oleh: Zaedin el-Barbazy*

Pilkada serentak merupakan salah satu wujud eksistensi demokrasi di Indonesia. Pada 2018 mendatang. Yaitu pada tanggal 27 Juni 2018. Rencanya kan diikuti oleh 171 daerah. Terbagi menjadi 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Yang akan menyelenggarakan Pilkada 2018, (Detiknews, 11/29/2017).

Namun demokrasi yang ada perlu kita pikirkan, bagaimana caranya agar demokrasi tesebut tidak ternodai dengan konflik karena isu murahan. Tidak jarang Sekarang ini para kandidat baik itu calon Bupati ataupun Gubernur sedang mempersiapalan seperti menggelar kampanye. Kampanye banyak dilakukan di sosial media dan banyak juga dilakukan dengan cara  pawai dengan aksi turun jalanan. Namun apa sebenarnya yang sering memicu ketegangan lawan politik.

Kampanye yang seharusnya berjalan sehat tetapi banyak konflik yang terjadi. Hal-hal yang harus dilakukan, kita harus hati-hati tanpa menyinggung dan merendahkan calon lawan, dengan menghindari hal yang bersifat provokatif. kampanye memang di anjurkan agar masyarakat mengetahui visi-misi calon dan karakter calon yang akan nantinya menjadi figur dalam suatu wilayah. Mungkin masyarakat masih trauma dengan Pilkada DKI 2017 yang baru saja kemarin berlangsung.

Memilih adalah hak seseorang sesuai dengan kecocokan hati nurani. Dengan cara  melihat  beberapa faktor, mulai mengetahui karakter, gaya hidup, dan bagaimana dia sosialisasi dengan masyarakat. Jangan mudah tergiur dengan janji-janji saat visi-misi dilontarkan. Pilihlah informasi yang jelas sesuai dengan fakta baik melalui media sosial ataupun kabar dari orang lain.

Kampanye boleh saja dilakukan tetapi jangan sampai menyinggung, ras, etnis, agama tertentu. Kampanye  Biasanya tidak cukup dengan menggunakan media-sosial saja. Kampanye dilakukan dengan menggelar pawai, dengan bermacam atribut-atribut; kaos, bendera, dan stiker. Selain itu banyak juga pawai dengan menggelar dangdut hal ini dilakukan untuk menarik masa sebanyak-banyaknya. namun perlu disadari bahwa hal-hal demikian bisa mengundang konflik ketegangan masyarakat kalau disertai provokatif, hal ini yang harus dihindari. Supaya demokrasi ini sehat, bersih sehingga  berjalan lancar.

Kampanye  bersih dan sehat untuk terhindar dari hal-hal yang akan mengundang terjadinya konflik harus membatasi atribut saat pawai dan menghilangkan kata-kata provokativ yang tertulis,baik di stiker, kaos, maupun bendera, baik perkataan maupun perbuatan.

*Mahasiswa semester VII Jurusan Akhwalus Syahsyiah UIN Walisongo Semarang